Sabtu, 31 Januari 2026

Jenius Islam yang Mengalahkan Waktu: Rahasia Akurasi Al-Kashi dalam Menghitung Rumus Pi




Ghiyath al-Din Jamshid al-Kashi: Sang "Ptolemaeus Kedua" dari Persia

Dalam catatan sejarah sains, nama Ghiyath al-Din Jamshid al-Kashi menempati posisi istimewa sebagai jembatan antara matematika klasik dan modern. Ia adalah otak di balik keajaiban Observatorium Ulugh Beg di Samarkand dan seorang ahli hitung dengan akurasi yang melampaui zamannya hingga berabad-abad.


1. Asal-Usul dan Masa Muda

Lahir sekitar tahun 1380 M di Kashan, Iran, Al-Kashi tumbuh di tengah kekacauan politik akibat invasi Timur Lenk. Meski demikian, kondisi ini tidak menyurutkan semangatnya. Nama "Al-Kashi" merujuk pada tanah kelahirannya, Kashan.

Ia menghabiskan masa mudanya dengan mempelajari astronomi dan matematika di bawah bimbingan para ulama setempat. Sebagian besar awal kariernya dihabiskan dalam kondisi ekonomi yang sulit, berpindah-pindah kota demi mencari perlindungan bagi penelitiannya.

2. Puncak Karier di Samarkand

Nasib Al-Kashi berubah ketika Sultan Ulugh Beg, seorang penguasa sekaligus ilmuwan dari Dinasti Timuriyah, mengundangnya ke Samarkand (sekarang Uzbekistan). Di sana, Al-Kashi diangkat menjadi direktur pertama Observatorium Samarkand yang tersohor.

Ulugh Beg sangat mengagumi kecerdasan Al-Kashi dan menjulukinya sebagai "seorang yang menguasai ilmu kuno dan modern." Di sana, ia bekerja bersama para ahli lain untuk menyusun Zij-i Sultani, tabel astronomi paling akurat pada masa itu.

3. Kontribusi Luar Biasa dalam Matematika

Al-Kashi sering dianggap sebagai penemu atau pengembang utama beberapa konsep matematika penting:

  • Hukum Kosinus: Di Barat, hukum ini dikenal sebagai Théorème d'Al-Kashi. Ia memberikan rumusan yang memungkinkan perhitungan sisi dan sudut segitiga non-siku-siku.

    $$a^2 = b^2 + c^2 - 2bc \cos A$$
  • Akurasi Nilai Pi ($\pi$): Al-Kashi berhasil menghitung nilai $\pi$ hingga 16 angka desimal (setara dengan 9 angka pada sistem basis-60). Rekor akurasi ini bertahan selama hampir 200 tahun sebelum akhirnya dipecahkan oleh matematikawan Eropa.

  • Pecahan Desimal: Meskipun konsep ini sudah muncul secara embrionik sebelumnya, Al-Kashi adalah orang pertama yang menggunakan pecahan desimal secara sistematis dan mempopulerkannya untuk mempermudah perhitungan angka yang sangat kecil.

4. Karya-Karya Monumental

Beberapa kitab tulisan Al-Kashi yang menjadi rujukan dunia antara lain:

  1. Miftah al-Hisab (Kunci Perhitungan): Sebuah ensiklopedia matematika yang membahas aritmatika, aljabar, dan geometri. Buku ini digunakan sebagai standar pengajaran sains di Timur Tengah selama berabad-abad.

  2. Al-Risala al-Muhitiyya (Risalah Lingkungan): Karya tempat ia menetapkan perhitungan nilai $\pi$ dan keliling lingkaran dengan akurasi luar biasa.

  3. Risala al-Watar wa’l-Jayb (Risalah tentang Tali Busur dan Sinus): Membahas perhitungan fungsi trigonometri.

5. Sifat dan Kepribadian

Al-Kashi dikenal sebagai sosok yang sangat teliti dan memiliki ketajaman analisis yang luar biasa. Meski hidup dalam kemegahan istana Samarkand, ia tetaplah seorang peneliti yang rendah hati namun terkadang eksentrik dalam cara berpikirnya yang visioner. Ia wafat pada tahun 1429 M di Samarkand, meninggalkan warisan yang menjadi fondasi bagi kemajuan matematika modern di Eropa.



Kamaluddin Ad-Damiri: Sang Penulis Ensiklopedia Hewan Terbesar dalam Sejarah Islam



KAMALUDDIN AD-DAMIRI: Sang Ensiklopedis Hewan dari Mesir

Kamaluddin Ad-Damiri, seorang ulama besar dan ensiklopedis dari abad ke-8 Hijriyah, dikenal luas berkat kontribusinya yang monumental dalam bidang zoologi Islam. Karyanya yang paling terkenal, "Hayat Al-Hayawan Al-Kubra," menjadi rujukan utama selama berabad-abad dalam memahami dunia hewan dari perspektif Islam dan ilmiah.

Nasab dan Nama Panggilan

Nama lengkapnya adalah Abu al-Baqa' Muhammad bin Musa bin Isa bin Ali ad-Damiri al-Mishri asy-Syafi'i. Ia lebih dikenal dengan nama panggilan Kamaluddin Ad-Damiri. Nama "Ad-Damiri" merujuk pada kota Damirah, sebuah kota di Mesir tempat ia berasal. Sedangkan "Abu al-Baqa'" adalah kunyah atau nama panggilan kehormatan yang berarti "ayah keabadian," mungkin merujuk pada kekekalan karyanya.

Tempat, Tanggal Lahir, dan Riwayat Hidupnya

Kamaluddin Ad-Damiri dilahirkan di Damirah, Mesir, pada tahun 742 Hijriyah (sekitar 1341 Masehi). Kehidupannya sebagian besar dihabiskan di Kairo, pusat keilmuan Mesir pada masa itu. Ia tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan tradisi keilmuan Islam dan menunjukkan minat yang besar terhadap berbagai cabang ilmu pengetahuan sejak usia muda. Ia wafat di Kairo pada tahun 808 Hijriyah (sekitar 1405 Masehi).

Pendidikannya

Ad-Damiri dikenal sebagai seorang yang haus ilmu. Ia belajar kepada banyak ulama terkemuka pada masanya. Pendidikan awalnya meliputi ilmu-ilmu agama seperti tafsir, hadis, fikih (madzhab Syafi'i), ushul fikih, nahwu (gramatika Arab), dan bahasa Arab. Selain itu, ia juga mempelajari ilmu-ilmu alam, khususnya zoologi, yang kelak menjadi fokus utamanya. Ia menimba ilmu dari syaikh-syaikh terkemuka di Kairo, menguasai berbagai disiplin ilmu yang menjadikannya seorang ulama yang multifaset.

Murid-Muridnya

Sebagai seorang pengajar dan ulama yang disegani, Ad-Damiri memiliki banyak murid yang belajar kepadanya. Murid-muridnya berasal dari berbagai latar belakang dan kemudian menjadi ulama-ulama yang melanjutkan tradisi keilmuan. Di antara murid-muridnya yang terkenal adalah Al-Qalqashandi, seorang sejarawan dan penulis terkenal, serta Ibnu Hajar Al-Asqalani, seorang ahli hadis terkemuka yang sering meriwayatkan dari Ad-Damiri. Hal ini menunjukkan pengaruh besar Ad-Damiri dalam membentuk generasi ulama berikutnya.

Sifat-Sifatnya

Kamaluddin Ad-Damiri dikenal memiliki beberapa sifat terpuji yang menjadikannya panutan. Ia adalah seorang yang tekun dan gigih dalam menuntut ilmu, tidak pernah puas dengan pengetahuan yang telah dimiliki. Kesabarannya terlihat dari usahanya yang luar biasa dalam menyusun karya-karya ensiklopedisnya yang memerlukan penelitian mendalam. Selain itu, ia juga dikenal sebagai seorang yang rendah hati, meskipun memiliki ilmu yang luas. Ia selalu berpegang teguh pada ajaran agama dan dikenal sebagai seorang yang wara' (menjaga diri dari syubhat) dan zuhud (tidak terlalu terikat pada dunia).

Karya-Karyanya

Karya paling monumental dari Kamaluddin Ad-Damiri adalah:

  1. "Hayat Al-Hayawan Al-Kubra" (Kehidupan Hewan yang Agung): Ini adalah ensiklopedia zoologi Islam yang paling komprehensif. Kitab ini membahas lebih dari seribu jenis hewan, mulai dari serangga hingga mamalia besar. Setiap hewan dijelaskan secara rinci, mencakup:

    • Nama dan etimologi: Ad-Damiri menjelaskan asal-usul nama hewan dalam bahasa Arab.

    • Deskripsi fisik: Karakteristik fisik dan habitat hewan.

    • Perilaku: Kebiasaan dan sifat-sifat unik hewan.

    • Manfaat dan bahaya: Penggunaan hewan dalam pengobatan, makanan, serta potensi bahayanya.

    • Penafsiran mimpi: Makna simbolis hewan dalam tafsir mimpi menurut tradisi Islam.

    • Referensi dari Al-Qur'an dan Hadis: Mengutip ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadis Nabi Muhammad SAW yang berkaitan dengan hewan tersebut.

    • Puisi dan peribahasa: Menambahkan kutipan-kutipan sastra Arab yang relevan.

    Karya ini tidak hanya penting dari sisi zoologi, tetapi juga dari sisi filologi, tafsir, hadis, fikih, dan sastra. "Hayat Al-Hayawan Al-Kubra" menjadi sumber rujukan utama bagi para ilmuwan Muslim dan bahkan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.


Jenius Islam yang Mengalahkan Waktu: Rahasia Akurasi Al-Kashi dalam Menghitung Rumus Pi

Ghiyath al-Din Jamshid al-Kashi: Sang "Ptolemaeus Kedua" dari Persia Dalam catatan sejarah sains, nama Ghiyath al-Din Jamshid al-K...