Ghiyath al-Din Jamshid al-Kashi: Sang "Ptolemaeus Kedua" dari Persia
Dalam catatan sejarah sains, nama Ghiyath al-Din Jamshid al-Kashi menempati posisi istimewa sebagai jembatan antara matematika klasik dan modern. Ia adalah otak di balik keajaiban Observatorium Ulugh Beg di Samarkand dan seorang ahli hitung dengan akurasi yang melampaui zamannya hingga berabad-abad.
1. Asal-Usul dan Masa Muda
Lahir sekitar tahun 1380 M di Kashan, Iran, Al-Kashi tumbuh di tengah kekacauan politik akibat invasi Timur Lenk. Meski demikian, kondisi ini tidak menyurutkan semangatnya. Nama "Al-Kashi" merujuk pada tanah kelahirannya, Kashan.
Ia menghabiskan masa mudanya dengan mempelajari astronomi dan matematika di bawah bimbingan para ulama setempat. Sebagian besar awal kariernya dihabiskan dalam kondisi ekonomi yang sulit, berpindah-pindah kota demi mencari perlindungan bagi penelitiannya.
2. Puncak Karier di Samarkand
Nasib Al-Kashi berubah ketika Sultan Ulugh Beg, seorang penguasa sekaligus ilmuwan dari Dinasti Timuriyah, mengundangnya ke Samarkand (sekarang Uzbekistan). Di sana, Al-Kashi diangkat menjadi direktur pertama Observatorium Samarkand yang tersohor.
Ulugh Beg sangat mengagumi kecerdasan Al-Kashi dan menjulukinya sebagai "seorang yang menguasai ilmu kuno dan modern." Di sana, ia bekerja bersama para ahli lain untuk menyusun Zij-i Sultani, tabel astronomi paling akurat pada masa itu.
3. Kontribusi Luar Biasa dalam Matematika
Al-Kashi sering dianggap sebagai penemu atau pengembang utama beberapa konsep matematika penting:
Hukum Kosinus: Di Barat, hukum ini dikenal sebagai Théorème d'Al-Kashi. Ia memberikan rumusan yang memungkinkan perhitungan sisi dan sudut segitiga non-siku-siku.
$$a^2 = b^2 + c^2 - 2bc \cos A$$Akurasi Nilai Pi ($\pi$): Al-Kashi berhasil menghitung nilai $\pi$ hingga 16 angka desimal (setara dengan 9 angka pada sistem basis-60). Rekor akurasi ini bertahan selama hampir 200 tahun sebelum akhirnya dipecahkan oleh matematikawan Eropa.
Pecahan Desimal: Meskipun konsep ini sudah muncul secara embrionik sebelumnya, Al-Kashi adalah orang pertama yang menggunakan pecahan desimal secara sistematis dan mempopulerkannya untuk mempermudah perhitungan angka yang sangat kecil.
4. Karya-Karya Monumental
Beberapa kitab tulisan Al-Kashi yang menjadi rujukan dunia antara lain:
Miftah al-Hisab (Kunci Perhitungan): Sebuah ensiklopedia matematika yang membahas aritmatika, aljabar, dan geometri. Buku ini digunakan sebagai standar pengajaran sains di Timur Tengah selama berabad-abad.
Al-Risala al-Muhitiyya (Risalah Lingkungan): Karya tempat ia menetapkan perhitungan nilai $\pi$ dan keliling lingkaran dengan akurasi luar biasa.
Risala al-Watar wa’l-Jayb (Risalah tentang Tali Busur dan Sinus): Membahas perhitungan fungsi trigonometri.
5. Sifat dan Kepribadian
Al-Kashi dikenal sebagai sosok yang sangat teliti dan memiliki ketajaman analisis yang luar biasa. Meski hidup dalam kemegahan istana Samarkand, ia tetaplah seorang peneliti yang rendah hati namun terkadang eksentrik dalam cara berpikirnya yang visioner. Ia wafat pada tahun 1429 M di Samarkand, meninggalkan warisan yang menjadi fondasi bagi kemajuan matematika modern di Eropa.