Abdul Latif al-Baghdadi: Sang Pendobrak Mitos Anatomi dan Perintis Egyptology
Dalam sejarah peradaban Islam, muncul seorang ilmuwan yang tidak hanya dikenal karena kecerdasannya, tetapi juga karena keberaniannya dalam mengkritik otoritas ilmu pengetahuan yang sudah mapan selama seribu tahun. Ia adalah Muwaffaq al-Din Abu Muhammad Abd al-Latif al-Baghdadi, atau yang lebih dikenal sebagai Abdul Latif al-Baghdadi.
Lahir di Baghdad pada tahun 1162 M (557 H), ia tumbuh menjadi seorang polimatik—ahli dalam banyak bidang—mulai dari kedokteran, filsafat, sejarah, hingga filologi.
Keberanian Melawan Arus: Mengoreksi Galen
Kontribusi terbesar Al-Baghdadi dalam dunia medis adalah prinsipnya yang mengutamakan observasi langsung di atas teks-teks kuno. Selama berabad-abad, dunia kedokteran (baik Timur maupun Barat) menganggap karya Galen, dokter legendaris Yunani, sebagai kebenaran mutlak yang tidak boleh dibantah.
Namun, saat berada di Mesir, Al-Baghdadi melakukan pengamatan langsung terhadap ribuan kerangka manusia yang menjadi korban bencana kelaparan. Hasilnya mengejutkan:
Tulang Rahang Bawah: Galen menyatakan rahang bawah terdiri dari dua tulang yang menyatu. Al-Baghdadi membuktikan melalui pengamatan langsung bahwa rahang bawah manusia hanyalah satu tulang tunggal.
Tulang Kelangkang (Sacrum): Ia juga mengoreksi deskripsi Galen mengenai tulang kelangkang yang ternyata terdiri dari satu bagian, bukan enam bagian seperti yang diklaim sebelumnya.
Keberaniannya ini menjadi tonggak penting bagi perkembangan metode ilmiah modern: bahwa bukti fisik jauh lebih berharga daripada otoritas teks lama.
Saksi Mata Sejarah Mesir Kuno
Selain ahli bedah, Al-Baghdadi adalah salah satu orang pertama di dunia Islam yang memiliki minat mendalam terhadap arkeologi Mesir. Karyanya yang berjudul Al-Ifada wa al-I'tibar (Kitab Laporan dan Pelajaran) adalah catatan sejarah yang sangat berharga.
Ia mendeskripsikan secara detail keindahan Piramida Giza, patung Sphinx, dan monumen-monumen Mesir lainnya dengan akurasi yang luar biasa. Baginya, peninggalan masa lalu adalah pelajaran bagi masa depan, sebuah pandangan yang mendahului disiplin ilmu Egyptology modern.
Tragedi Kelaparan dan Catatan Sosiologis
Al-Baghdadi bukan sekadar ilmuwan di balik meja. Ia menulis catatan pilu tentang kelaparan besar yang melanda Mesir akibat kegagalan banjir Sungai Nil pada tahun 1200-1202 M. Catatannya mencakup:
Dampak kesehatan masyarakat akibat kekurangan gizi.
Perubahan perilaku sosial masyarakat saat menghadapi bencana.
Deskripsi mendalam tentang penyakit menular yang muncul saat itu.
Warisan untuk Dunia
Abdul Latif al-Baghdadi mengajarkan satu hal penting: Integritas Ilmiah. Ia tidak takut mengakui bahwa ilmuwan besar di masa lalu bisa saja salah. Ia menghabiskan sisa hidupnya berkeliling dari Damaskus hingga Aleppo untuk mengajar, sebelum akhirnya wafat di Baghdad pada tahun 1231 M.
Hingga saat ini, namanya diabadikan sebagai pionir yang membawa kedokteran keluar dari belenggu dogmatis menuju era pengamatan empiris yang nyata.
Ringkasan Kontribusi Utama
Anatomi: Penemu bahwa rahang bawah manusia adalah satu tulang tunggal.
Arkeologi: Penulis deskripsi paling akurat tentang monumen Mesir Kuno di abad pertengahan.
Metode Ilmiah: Pelopor prinsip "melihat adalah mempercayai" dalam sains.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar