Dalam tafsir Ibnu Katsir, ayat ketiga dari surat At-Tin, yaitu "وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ" (Wa hādhāl-baladil-amīn), ditafsirkan sebagai sumpah Allah SWT dengan nama kota Mekah.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tafsir mengenai makna ayat ini. Mereka sepakat bahwa "al-Balad al-Amīn" (kota yang aman) secara khusus merujuk kepada kota Mekah.
Berikut poin-poin penting tafsir Ibnu Katsir untuk ayat ini:
Sumpah dengan Tempat Suci: Ayat ini melanjutkan serangkaian sumpah yang telah disebutkan pada ayat-ayat sebelumnya. Jika ayat 1 ("At-Tin wa Az-Zaitun") merujuk pada Baitul Maqdis dan ayat 2 ("Ṭūri Sīnīn") merujuk pada Gunung Sinai, maka ayat 3 ini merujuk pada Mekah.
Tempat Turunnya Wahyu Terakhir: Mekah adalah kota tempat diutusnya Nabi Muhammad SAW, nabi penutup, dan tempat diturunkannya Al-Qur'an. Ini adalah tempat yang paling mulia dari ketiga tempat yang disebutkan dalam sumpah tersebut.
Kota yang Aman: Disebut "al-Balad al-Amīn" karena Allah telah menjadikannya kota yang aman dan suci. Siapa pun yang memasukinya akan merasa aman, dan segala bentuk pertumpahan darah, perburuan, atau penebangan pohon di dalamnya dilarang.
Puncak Sumpah: Rangkaian sumpah ini memiliki tingkatan dari yang mulia, lalu yang lebih mulia, hingga yang paling mulia. Dengan menyebut Mekah sebagai puncaknya, Allah SWT ingin menegaskan betapa agungnya pesan yang akan disampaikan setelah sumpah-sumpah tersebut, yaitu tentang penciptaan manusia dalam bentuk terbaik.
Secara keseluruhan, rangkaian sumpah di awal surat At-Tin (ayat 1-3) menunjukkan keagungan Allah SWT dengan menyebutkan tiga tempat suci yang menjadi pusat turunnya wahyu dan syariat besar kepada para nabi ulul azmi, yaitu Nabi Isa, Nabi Musa, dan Nabi Muhammad SAW.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar