Sabtu, 13 September 2025

Pesan Tersembunyi di Balik Ad-Dhuha Ayat 6: Ketika Hidup Terasa Gelap




Tafsir Surat Ad-Dhuha Ayat 6

Ayat 6:

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ

(Alam yajidka yatīman fa-āwā)

"Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?"


1. Pengingat Nikmat-Nikmat Allah di Masa Lalu

Setelah memberikan janji-janji agung untuk masa depan (di ayat 4 dan 5), Allah kini mengingatkan Nabi Muhammad ﷺ tentang nikmat dan perlindungan yang telah Dia berikan di masa lalu. Ayat ini adalah bentuk penguatan psikologis dan bukti nyata atas kasih sayang Allah yang tak pernah putus.

Kalimat أَلَمْ يَجِدْكَ (alam yajidka) yang berarti "Bukankah Dia mendapatimu?" adalah pertanyaan retoris yang bermakna penegasan. Allah ingin Nabi Muhammad ﷺ dan kita semua menyadari bahwa perlindungan Allah bukanlah hal baru, melainkan telah ada sejak awal kehidupan beliau.

2. Kondisi Yatim dan Perlindungan Allah

  • يَتِيمًا (yatīman): "sebagai seorang yatim." Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ lahir dalam keadaan yatim, karena ayahnya, Abdullah, telah meninggal dunia saat beliau masih dalam kandungan ibunya, Aminah.

  • فَآوَىٰ (fa-āwā): "lalu Dia melindungimu." Allah kemudian memberikan perlindungan kepada Nabi melalui beberapa orang:

    1. Ibunya, Aminah: Selama masa kecil.

    2. Kakeknya, Abdul Muththalib: Setelah ibunya meninggal saat beliau berusia enam tahun.

    3. Pamannya, Abu Thalib: Setelah kakeknya meninggal saat beliau berusia delapan tahun.

Semua perlindungan ini adalah takdir dan pengaturan langsung dari Allah SWT. Meskipun yatim, Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah dibiarkan terlantar. Allah selalu menyediakan orang-orang yang mencintai dan melindunginya, menegaskan bahwa kasih sayang-Nya tidak pernah absen.

3. Kaitan dengan Keseluruhan Surat

Ayat 6 ini berfungsi sebagai penguat dari janji-janji di ayat sebelumnya. Pesan utamanya adalah:

  • Jika di masa lalu Allah telah menjagamu saat kamu yatim dan lemah,

  • Maka di masa depan, janji-Nya untuk memberimu karunia yang memuaskan juga pasti akan terwujud.

Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa merenungkan nikmat-nikmat Allah di masa lalu dapat menguatkan iman dan keyakinan kita pada janji-janji-Nya di masa depan. Ini adalah bukti bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fenomena Telur Berembrio: Eksotisme Kuliner atau Makanan Haram?

Antara Eksotisme Kuliner dan Syariat: Bagaimana Islam Memandang Telur Berembrio? Pernahkah Anda mendengar tentang Balut ? Di Filipina atau b...