Ayat selanjutnya setelah Surat Al-Lail ayat 17 adalah Surat Al-Lail ayat 18. Ayat ini menjelaskan salah satu perbuatan utama yang menjadikan seseorang "orang yang paling bertakwa" dan dijauhkan dari neraka.
Teks dan Arti Ayat
Ayat Arab: الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّىٰ
Transliterasi Latin: Allażī yu`tī mālahụ yatazakkā
Artinya: "Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), untuk membersihkan (dirinya)."
Tafsir Ibnu Katsir
Menurut Ibnu Katsir, ayat ini adalah rincian lebih lanjut dari sifat "orang yang paling bertakwa" (al-atqā) yang disebutkan pada ayat sebelumnya. Ayat ini menegaskan bahwa salah satu sifat utama dari orang yang paling bertakwa adalah kedermawanan yang didasari niat suci.
Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini sebagai berikut:
Menafkahkan Harta di Jalan Allah: Kata yu`tī mālahu (menafkahkan hartanya) menunjukkan bahwa orang yang bertakwa tidaklah kikir. Mereka dengan senang hati mengeluarkan hartanya, baik melalui zakat, sedekah, maupun infak, untuk membantu orang lain dan mendukung jalan kebaikan.
Tujuan untuk Membersihkan Diri: Poin terpenting dalam ayat ini adalah kalimat yatazakkā (untuk membersihkan dirinya). Ibnu Katsir menjelaskan bahwa tujuan dari menafkahkan harta bukanlah untuk riya' (pamer), mendapatkan pujian, atau mencari keuntungan duniawi. Sebaliknya, tujuan utamanya adalah untuk membersihkan diri dari dosa dan menyucikan hati.
Ayat 18 ini menguatkan makna yang ada pada ayat 5 (fā'ammā man a'ṭā wattaqā), yang menyebutkan bahwa orang yang dimudahkan jalannya adalah orang yang memberi dan bertakwa. Ayat 18 ini menegaskan kembali bahwa memberi (menafkahkan harta) adalah perbuatan nyata dari ketakwaan yang tulus. Ini adalah kunci untuk membersihkan diri dari kotoran hati dan menjadi orang yang paling bertakwa, yang akhirnya akan dijauhkan dari api neraka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar