Ayat selanjutnya setelah Surat Al-Lail ayat 19 adalah Surat Al-Lail ayat 20. Ayat ini merupakan penutup dari penjelasan tentang motivasi yang tulus dalam berinfak.
Teks dan Arti Ayat
Ayat Arab: إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَىٰ
Transliterasi Latin: Illa ibtighā`a wajhi rabbihil-a'lā
Artinya: "Akan tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Maha Tinggi."
Tafsir Ibnu Katsir
Menurut Ibnu Katsir, ayat ini adalah inti dari seluruh perbuatan baik yang dilakukan oleh "orang yang paling bertakwa." Ayat ini menjelaskan satu-satunya motivasi sejati yang ada di balik perbuatan memberi, yang tidak dilandasi oleh hutang budi atau balasan duniawi.
Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini sebagai berikut:
Mencari Wajah Allah: Kata ibtiqhā`a wajhi rabbihil-a'lā (mencari keridaan Tuhannya Yang Maha Tinggi) adalah tujuan tertinggi dari setiap amal saleh. Istilah "wajah Allah" di sini merujuk pada keridaan, ganjaran, dan balasan yang diberikan oleh-Nya. Artinya, tujuan satu-satunya dari berinfak adalah untuk mendapatkan rida Allah, bukan hal lain.
Motivasi Paling Murni: Ayat ini adalah penegas bahwa perbuatan baik yang sejati adalah yang didasari oleh niat yang murni dan tulus karena Allah. Seseorang memberi bukan karena paksaan, harapan imbalan, atau pujian dari orang lain, melainkan karena ia mencintai Allah dan ingin mendapatkan tempat di sisi-Nya.
Ayat 20 ini berfungsi sebagai penutup dari penjelasan tentang sifat-sifat orang yang dimudahkan jalannya. Ini melengkapi narasi yang dimulai dari ayat 5 hingga 7, menjelaskan bahwa tiga sifat tersebut (memberi, bertakwa, dan membenarkan) berujung pada satu tujuan: mencari keridaan Allah semata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar