Senin, 24 November 2025

Kritik terhadap Kesombongan Harta | Tafsir Al-Balad 6



📜 Pamer Harta dan Angkuh: Tafsir Surah Al-Balad Ayat 6 Menurut Ibnu Katsir

Surah Al-Balad secara bertahap mengungkap sifat tercela manusia, terutama yang terperdaya oleh kekayaan dan kekuatan. Setelah ayat 5 menegur keangkuhan karena merasa tak terkalahkan, ayat 6 menampilkan manifestasi dari keangkuhan tersebut, yaitu kesombongan terhadap harta benda.

Ayat 6 berbunyi:

يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًا لُبَدًا

(Yaqūlu ahlaktu mālal lubadā)

"Dia (orang yang sombong itu) mengatakan, 'Aku telah menghabiskan harta yang banyak.'"

Dalam kitab Tafsirnya, Imam Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini sebagai gambaran prilaku manusia yang riya' (pamer) dan sombong atas pengeluaran yang dilakukannya.


1. Konteks Ucapan: Sombong dan Membanggakan Diri

Perkataan "Aku telah menghabiskan harta yang banyak" diucapkan oleh individu yang merasa superior karena kekayaan dan kekuasaannya. Ibnu Katsir menegaskan bahwa ucapan ini dilontarkan dengan nada angkuh dan berbangga-bangga, seolah-olah pengeluaran besar yang ia lakukan adalah sebuah pengorbanan yang tak tertandingi dan pantas dipuji.

A. Sebab Turun Ayat (Asbābun Nuzūl)

Meskipun hukum ayat ini umum, beberapa riwayat menunjukkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan seseorang di Makkah (seperti yang disebutkan pada tafsir ayat 5) yang dengan bangga menceritakan seberapa banyak harta yang ia keluarkan untuk menentang dakwah Rasulullah ﷺ atau untuk tujuan kesombongan lainnya.

B. Makna Kalimat Kunci

  • أَهْلَكْتُ (Ahlaktu - Aku telah menghabiskan/membinasakan): Dalam konteks ini, kata ini digunakan untuk menunjukkan jumlah pengeluaran yang sangat besar, hingga terkesan mubazir atau menghabiskan banyak hal. Orang tersebut ingin menunjukkan besarnya pengeluaran tersebut sebagai bukti kekayaan dan "kemurahan" hatinya.

  • مَالًا لُبَدًا (Mālal lubadā - Harta yang banyak/bertumpuk): Kata lubadā menekankan bahwa harta yang dikeluarkan bukan sedikit, melainkan melimpah, bertumpuk-tumpuk, dan berlimpah ruah.

2. Kritik Allah: Tujuan yang Salah dan Sia-sia

Kritik Ilahi yang tersirat dalam ayat 6 ini berpusat pada niat dan tujuan di balik pengeluaran tersebut. Pengeluaran yang dibanggakan itu menjadi tercela karena:

  1. Berorientasi Pamer (Riya'): Pembelanjaan itu dilakukan bukan atas dasar keikhlasan kepada Allah, melainkan untuk mencari pujian, sanjungan, dan status sosial di mata manusia.

  2. Membahayakan Diri Sendiri: Jika harta itu dikeluarkan untuk tujuan kebatilan (misalnya, menentang kebenaran atau maksiat), maka pengeluaran itu sejatinya telah membinasakan atau mencelakakan dirinya sendiri di akhirat, bukan mendatangkan pahala.

3. Hubungan Erat dengan Ayat Selanjutnya (Ayat 7)

Ayat 6 tentang pamer harta ini langsung dijawab oleh pertanyaan retoris pada ayat 7:

أَيَحْسَبُ أَنْ لَمْ يَرَهُ أَحَدٌ

"Apakah dia menyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya?"

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat 7 berfungsi sebagai teguran pamungkas. Manusia sombong itu merasa puas dengan puji-pujian manusia atas pengeluarannya yang banyak. Ia lupa bahwa ada Dzat yang Maha Melihat atas setiap pengeluaran, niat, dan perbuatannya.

Pesan Inti: Seseorang yang mengeluarkan harta harusnya takut kepada Allah yang Maha Melihat, bukan membanggakan diri di hadapan manusia. Keangkuhan manusia akan harta dibalas dengan pertanyaan yang menyentak kesadaran: "Kau membanggakan hartamu, tapi apakah Kau lupa ada yang Maha Menghitung dan Melihat setiap detail perbuatanmu?"



Jumat, 14 November 2025

A Strong Rebuke for the Arrogant: Tafsir Ibn Kathir, Surah Al-Balad, Verse 5




📖 Sifat Sombong Manusia: Tafsir Surah Al-Balad Ayat 5 Menurut Ibnu Katsir

Setelah Allah $Subhana wa Ta'ala$ menetapkan sebuah kebenaran universal di ayat 4—bahwa manusia diciptakan dalam susah payah dan perjuangan (fī kabad)—ayat selanjutnya menyoroti respons negatif sebagian manusia terhadap kenyataan tersebut.

Surah Al-Balad ayat 5 berbunyi:

أَيَحْسَبُ أَنْ لَنْ يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ

(Ayaḥsabu allan yaqdira ‘alaihi aḥad)

"Apakah dia menyangka bahwa sekali-kali tidak ada seorang pun yang berkuasa atasnya?"

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini ditujukan sebagai teguran keras dan pertanyaan retoris kepada manusia yang angkuh, terutama mereka yang tertipu oleh kekuatan atau harta yang dimilikinya.


1. Siapa yang Dimaksud "Dia" (Ayaḥsabu)?

Meskipun ayat ini berbicara dalam bentuk umum, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa menurut banyak mufasir, ayat ini secara spesifik ditujukan kepada individu-individu yang sombong dan berlimpah harta pada masa Nabi Muhammad ﷺ, yang dikenal angkuh terhadap Nabi dan kaum Muslimin. Salah satu yang sering disebut adalah Abu Al-Asyad bin Kaladah Al-Jumahi atau tokoh sejenisnya.

Tujuan utama teguran ini adalah untuk menghancurkan ilusi kekuatan absolut yang dimiliki manusia.

2. Inti Pertanyaan: Kekuasaan Siapa yang Diingkari?

Pertanyaan "Apakah dia menyangka bahwa sekali-kali tidak ada seorang pun yang berkuasa atasnya?" mengandung makna ganda:

A. Pengingkaran Kekuasaan Allah

Ini adalah makna utama. Orang yang sombong itu menyangka bahwa dengan harta, kekayaan, atau pengaruhnya, ia telah mencapai posisi di mana tidak ada satu pun kekuatan yang dapat mengalahkannya, termasuk Allah $Subhana wa Ta'ala$.

Ibnu Katsir menegaskan bahwa Allah $Subhana wa Ta'ala$ bertanya, "Apakah manusia ini menduga bahwa Kami tidak mampu untuk menghukumnya atau mengambil kembali nikmat yang telah Kami berikan kepadanya?" Ayat ini menjadi pengingat yang tegas bahwa kekuatan sejati dan kekuasaan mutlak hanyalah milik Allah, Sang Pencipta Kabad.

B. Pengingkaran Pertanggungjawaban (Hisab)

Sebagian ulama menafsirkan yaqdira ‘alaihi aḥad sebagai pertanggungjawaban. Mereka menyangka bahwa tidak ada seorang pun (termasuk malaikat atau Allah) yang akan menghitung amal perbuatan mereka, dan mereka tidak akan dibangkitkan.

Tafsiran ini sejalan dengan ayat-ayat setelahnya (ayat 6), di mana manusia sombong tersebut berbicara besar tentang hartanya, tetapi ia lalai bahwa Allah $Subhana wa Ta'ala$ adalah Pengawas.

3. Hubungan dengan Ayat Sebelumnya (Fī Kabad)

Ayat 5 ini berfungsi sebagai kritik tajam atas respons manusia terhadap fitrah Kabad (perjuangan hidup) yang disebutkan di ayat 4.

  • Ayat 4: Menetapkan bahwa hidup adalah perjuangan.

  • Ayat 5: Mengkritik manusia yang salah menyikapi perjuangan itu. Ketika manusia berhasil melewati perjuangan tersebut dan meraih harta atau kekuasaan, ia menjadi sombong dan lupa bahwa kesulitan itu datang dan pergi atas izin Allah $Subhana wa Ta'ala$.

Pesan Inti: Seseorang yang telah melalui kesulitan (kabad) dan mendapatkan kesenangan (harta/kekuatan) seharusnya bersyukur dan tawadhu (rendah hati), bukan malah menyangka dirinya telah berkuasa mutlak dan kebal dari hukuman atau perhitungan Allah.


💡 Penutup

Melalui Tafsir Ibnu Katsir, Surah Al-Balad ayat 5 adalah peringatan keras bagi kita semua. Sekuat, sekaya, atau sehebat apa pun manusia di dunia ini, ia tidak akan pernah lepas dari Kekuasaan Allah $Subhana wa Ta'ala$. Anggapan bahwa tidak ada yang berkuasa atas dirinya adalah bentuk kesombongan dan kekufuran yang harus dihindari.



Fenomena Telur Berembrio: Eksotisme Kuliner atau Makanan Haram?

Antara Eksotisme Kuliner dan Syariat: Bagaimana Islam Memandang Telur Berembrio? Pernahkah Anda mendengar tentang Balut ? Di Filipina atau b...