Jumat, 14 November 2025

A Strong Rebuke for the Arrogant: Tafsir Ibn Kathir, Surah Al-Balad, Verse 5




📖 Sifat Sombong Manusia: Tafsir Surah Al-Balad Ayat 5 Menurut Ibnu Katsir

Setelah Allah $Subhana wa Ta'ala$ menetapkan sebuah kebenaran universal di ayat 4—bahwa manusia diciptakan dalam susah payah dan perjuangan (fÄ« kabad)—ayat selanjutnya menyoroti respons negatif sebagian manusia terhadap kenyataan tersebut.

Surah Al-Balad ayat 5 berbunyi:

Ø£َÙŠَØ­ْسَبُ Ø£َÙ†ْ Ù„َÙ†ْ ÙŠَÙ‚ْدِرَ عَÙ„َÙŠْÙ‡ِ Ø£َØ­َدٌ

(Ayaḥsabu allan yaqdira ‘alaihi aḥad)

"Apakah dia menyangka bahwa sekali-kali tidak ada seorang pun yang berkuasa atasnya?"

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini ditujukan sebagai teguran keras dan pertanyaan retoris kepada manusia yang angkuh, terutama mereka yang tertipu oleh kekuatan atau harta yang dimilikinya.


1. Siapa yang Dimaksud "Dia" (Ayaḥsabu)?

Meskipun ayat ini berbicara dalam bentuk umum, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa menurut banyak mufasir, ayat ini secara spesifik ditujukan kepada individu-individu yang sombong dan berlimpah harta pada masa Nabi Muhammad ï·º, yang dikenal angkuh terhadap Nabi dan kaum Muslimin. Salah satu yang sering disebut adalah Abu Al-Asyad bin Kaladah Al-Jumahi atau tokoh sejenisnya.

Tujuan utama teguran ini adalah untuk menghancurkan ilusi kekuatan absolut yang dimiliki manusia.

2. Inti Pertanyaan: Kekuasaan Siapa yang Diingkari?

Pertanyaan "Apakah dia menyangka bahwa sekali-kali tidak ada seorang pun yang berkuasa atasnya?" mengandung makna ganda:

A. Pengingkaran Kekuasaan Allah

Ini adalah makna utama. Orang yang sombong itu menyangka bahwa dengan harta, kekayaan, atau pengaruhnya, ia telah mencapai posisi di mana tidak ada satu pun kekuatan yang dapat mengalahkannya, termasuk Allah $Subhana wa Ta'ala$.

Ibnu Katsir menegaskan bahwa Allah $Subhana wa Ta'ala$ bertanya, "Apakah manusia ini menduga bahwa Kami tidak mampu untuk menghukumnya atau mengambil kembali nikmat yang telah Kami berikan kepadanya?" Ayat ini menjadi pengingat yang tegas bahwa kekuatan sejati dan kekuasaan mutlak hanyalah milik Allah, Sang Pencipta Kabad.

B. Pengingkaran Pertanggungjawaban (Hisab)

Sebagian ulama menafsirkan yaqdira ‘alaihi aḥad sebagai pertanggungjawaban. Mereka menyangka bahwa tidak ada seorang pun (termasuk malaikat atau Allah) yang akan menghitung amal perbuatan mereka, dan mereka tidak akan dibangkitkan.

Tafsiran ini sejalan dengan ayat-ayat setelahnya (ayat 6), di mana manusia sombong tersebut berbicara besar tentang hartanya, tetapi ia lalai bahwa Allah $Subhana wa Ta'ala$ adalah Pengawas.

3. Hubungan dengan Ayat Sebelumnya (FÄ« Kabad)

Ayat 5 ini berfungsi sebagai kritik tajam atas respons manusia terhadap fitrah Kabad (perjuangan hidup) yang disebutkan di ayat 4.

  • Ayat 4: Menetapkan bahwa hidup adalah perjuangan.

  • Ayat 5: Mengkritik manusia yang salah menyikapi perjuangan itu. Ketika manusia berhasil melewati perjuangan tersebut dan meraih harta atau kekuasaan, ia menjadi sombong dan lupa bahwa kesulitan itu datang dan pergi atas izin Allah $Subhana wa Ta'ala$.

Pesan Inti: Seseorang yang telah melalui kesulitan (kabad) dan mendapatkan kesenangan (harta/kekuatan) seharusnya bersyukur dan tawadhu (rendah hati), bukan malah menyangka dirinya telah berkuasa mutlak dan kebal dari hukuman atau perhitungan Allah.


💡 Penutup

Melalui Tafsir Ibnu Katsir, Surah Al-Balad ayat 5 adalah peringatan keras bagi kita semua. Sekuat, sekaya, atau sehebat apa pun manusia di dunia ini, ia tidak akan pernah lepas dari Kekuasaan Allah $Subhana wa Ta'ala$. Anggapan bahwa tidak ada yang berkuasa atas dirinya adalah bentuk kesombongan dan kekufuran yang harus dihindari.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fenomena Telur Berembrio: Eksotisme Kuliner atau Makanan Haram?

Antara Eksotisme Kuliner dan Syariat: Bagaimana Islam Memandang Telur Berembrio? Pernahkah Anda mendengar tentang Balut ? Di Filipina atau b...