Rabu, 12 November 2025

Hidup Adalah Perjuangan


Tafsir Surah Al-Balad ayat 4 menurut Ibnu Katsir berfokus pada pernyataan fundamental mengenai hakikat penciptaan dan kehidupan manusia.

Ayat tersebut berbunyi:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ

(Laqad khalaqnal-insāna fī kabad)

"Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia berada dalam susah payah."


🧭 Inti Tafsir Ibnu Katsir: Makna "Fī Kabad"

Menurut Tafsir Ibnu Katsir, yang merangkum berbagai pendapat dari ulama salaf seperti Mujahid, Ikrimah, dan Qatadah, kata kunci dalam ayat ini adalah كَبَدٍ (kabad).

Kabad memiliki beberapa makna utama yang semuanya mengarah pada satu inti: Kesulitan, Kepayahan, Perjuangan, dan Beban Berat (Masyaqqah).

1. Perjuangan Sejak Awal Penciptaan

Ibnu Katsir meriwayatkan dari Mujahid bahwa makna fī kabad dimulai sejak fase penciptaan manusia itu sendiri, yaitu:

  • Dari nuthfah (setetes air mani) menjadi 'alaqah (segumpal darah).

  • Dari 'alaqah menjadi mudhghah (segumpal daging).

Dengan kata lain, proses manusia terbentuk dan terlahir ke dunia adalah serangkaian tahapan yang penuh susah payah dan perubahan bentuk yang kompleks.

Getty Images

2. Kesulitan Hidup yang Berkelanjutan

Tafsir ini juga mencakup kesulitan yang dihadapi manusia sepanjang hidup di dunia:

  • Pencarian Nafkah: Manusia harus berjuang dan berusaha keras (masyaqqah) untuk mencari penghidupan dan rezeki.

  • Menghadapi Urusan: Menurut Al-Hasan Al-Basri, kabad adalah kesusahan yang dialami manusia dalam menanggulangi urusan dunia (pekerjaan, keluarga, kesehatan) dan urusan akhirat (ibadah, menahan hawa nafsu, menghadapi hisab).

  • Perjuangan Fisik: Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa kabad adalah perjuangan yang dialami manusia untuk dapat berdiri, tegak, dan menjalankan aktivitas sehari-hari.

3. Kesulitan yang Tak Berakhir

Ikrimah menafsirkannya sebagai susah payah yang berkepanjangan. Ibnu Katsir menyimpulkan bahwa pandangan yang paling kuat adalah bahwa manusia diciptakan dalam keadaan susah payah dalam menghadapi semua urusan dan penanggulangannya yang berat, yang berlanjut hingga ia meninggal, dan bahkan menghadapi kesulitan di alam kubur dan hari akhirat.


🎯 Hubungan dengan Ayat Sebelumnya

Ayat 4 adalah jawaban sumpah Allah $Subhana wa Ta'ala$ dalam ayat 1, 2, dan 3.

  • Sumpah Allah demi Mekkah, Rasulullah, dan "bapak dan anaknya" (wālidivv wa mā walad) di ayat 3, menekankan keagungan dan pentingnya entitas manusia dan proses penciptaannya.

  • Kemudian datang ayat 4, yang menyatakan sebuah kebenaran universal: entitas mulia yang diciptakan itu pasti akan hidup dalam perjuangan (kabad).

Hal ini mengajarkan bahwa kesulitan dan perjuangan adalah fitrah (kodrat) yang melekat pada eksistensi manusia di dunia, dan bukan tanda hukuman, melainkan bagian dari ujian dan proses pendewasaan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fenomena Telur Berembrio: Eksotisme Kuliner atau Makanan Haram?

Antara Eksotisme Kuliner dan Syariat: Bagaimana Islam Memandang Telur Berembrio? Pernahkah Anda mendengar tentang Balut ? Di Filipina atau b...