Kamis, 18 Desember 2025

Mengapa Kebaikan Terasa Berat? Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Balad Ayat 11


Tafsir Surah Al-Balad ayat 11 merupakan peralihan penting dalam surah ini. Setelah Allah Subhana wa Ta'ala menjelaskan bahwa manusia telah diberi "dua jalan" (kebaikan dan keburukan) pada ayat 10, ayat 11 muncul sebagai sebuah teguran sekaligus tantangan bagi manusia.

Ayat 11 berbunyi:

فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ

(Fa laqtahama al-'aqabah)

"Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki lagi sukar."


1. Inti Ayat: Keengganan Menempuh Jalan Keselamatan

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini adalah bentuk celaan atau teguran kepada manusia (khususnya orang kafir atau mereka yang sombong dengan hartanya) karena mereka tidak mau menggunakan harta dan potensi mereka untuk melakukan amal shaleh yang berat namun menyelamatkan.

A. Makna Al-'Aqabah (Jalan Mendaki)

Secara bahasa, 'Aqabah berarti jalan di pegunungan yang mendaki, terjal, dan sulit dilewati. Namun, secara maknawi dalam tafsir ini:

  • Ibnu Katsir mengutip pendapat para ulama bahwa Al-'Aqabah adalah jalan menuju keselamatan dan surga.

  • Jalan ini disebut "mendaki dan sukar" karena berlawanan dengan hawa nafsu. Melakukan kebaikan seringkali terasa berat bagi jiwa yang kikir dan sombong.

B. Arti Kata Iqtahama

Kata Iqtahama berarti melintasi dengan paksa atau mengerahkan tenaga ekstra. Ini menunjukkan bahwa untuk masuk ke dalam kebaikan dan mencapai keridhaan Allah, diperlukan perjuangan, kesungguhan, dan pengorbanan.


2. Tafsir Menurut Pendapat Ulama Salaf

Dalam karyanya, Ibnu Katsir mencantumkan beberapa riwayat untuk menjelaskan hakikat "Jalan yang Mendaki" ini:

  • Qatadah: Ia berkata bahwa jalan mendaki itu adalah jalan yang sulit dan keras, maka tempuhlah jalan itu dengan ketaatan kepada Allah.

  • Ibnu Abbas: Menyebutkan bahwa Al-'Aqabah adalah rintangan di neraka. Orang yang tidak mampu "mendaki" atau melampaui rintangan amal di dunia, ia akan tertahan di sana.

  • Asy-Sya'bi: Menjelaskan bahwa rintangan ini ada dalam diri manusia sendiri, yaitu kikir dan hawa nafsu.


3. Hubungan dengan Ayat Selanjutnya (Penjelasan Amal)

Ayat 11 ini sebenarnya adalah sebuah pertanyaan atau pembuka yang akan dijawab oleh Allah sendiri pada ayat-ayat berikutnya (12-16).

Jika manusia bertanya, "Apa itu jalan yang mendaki lagi sukar?", maka Allah menjawabnya di ayat selanjutnya:

  1. Melepaskan budak (kemerdekaan manusia).

  2. Memberi makan pada hari kelaparan.

  3. Menyantuni anak yatim dan orang miskin yang sangat melarat.

Kesimpulan:

Ayat 11 menegur manusia yang sombong (yang sebelumnya mengaku telah menghabiskan banyak harta untuk pamer), namun ketika dihadapkan pada amal nyata yang bernilai di sisi Allah (seperti menolong sesama), mereka justru kikir dan enggan melaluinya.



Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Balad Ayat 10 tentang Dua Jalan (Kebaikan & Keburukan)


Tafsir Surah Al-Balad ayat 10 merupakan puncak dari rangkaian pengingat nikmat dan teguran Allah $Subhana wa Ta'ala$ dalam surat ini. Setelah menyebutkan anugerah alat-alat penciptaan yang sempurna (mata, lidah, bibir di ayat 8-9), Allah kemudian menyatakan tentang petunjuk yang diberikan kepada manusia.

Ayat 10 berbunyi:

وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ

(Wa hadaynāhun-najdayn)

"Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (jalan kebaikan dan jalan keburukan)."


1. Inti Ayat: Petunjuk Dua Jalan (An-Najdayn)

Kata kunci dalam ayat ini adalah النَّجْدَيْنِ (an-najdayn), yang secara harfiah berarti dua jalan yang tinggi, atau dua dataran tinggi.

A. Tafsir Mayoritas: Jalan Kebaikan dan Keburukan

Ibnu Katsir merangkum pandangan mayoritas ulama salaf, termasuk Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, dan Adh-Dhahhak, bahwa yang dimaksud dengan an-najdayn adalah dua jalan yang jelas bagi manusia:

  1. Jalan Kebaikan (Khair): Yaitu jalan ketaatan, iman, ketakwaan, dan perbuatan baik yang mengarah kepada surga.

  2. Jalan Keburukan (Syarr): Yaitu jalan kemaksiatan, kekufuran, dan perbuatan jahat yang mengarah kepada neraka.

Allah $Subhana wa Ta'ala$ telah menjelaskan dan memperlihatkan kedua jalan ini kepada manusia, sehingga manusia memiliki pilihan dan tanggung jawab penuh.

B. Tafsir Fisik (Pendapat Lain yang Diriwayatkan)

Ada pula pandangan (walaupun kurang kuat) yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa an-najdayn merujuk pada dua jalan fisik yang keluar dari tubuh: jalan air seni dan jalan air besar (faeces). Namun, Ibnu Katsir menguatkan pandangan pertama, karena konteks ayat adalah tentang petunjuk moral dan pilihan hidup yang menjadi dasar pertanggungjawaban manusia.

2. Penyempurnaan Tanggung Jawab Manusia

Ayat 10 ini adalah kesimpulan logis dari rangkaian ayat sebelumnya (4-9):

  1. Ayat 4-7: Manusia diciptakan dalam perjuangan (kabad) dan diingatkan agar tidak sombong karena Allah Maha Melihat.

  2. Ayat 8-9: Allah telah memberikan peralatan sempurna (mata untuk melihat petunjuk dan bahaya, lidah/bibir untuk berbicara dan memilih).

  3. Ayat 10: Allah telah memberikan petunjuk cara menggunakan peralatan tersebut (yaitu, memilih salah satu dari dua jalan).

Dengan diberikannya peralatan yang canggih (indera) dan petunjuk yang jelas (an-najdayn), manusia tidak memiliki alasan di hari Hisab untuk mengatakan, "Saya tidak tahu mana yang benar." Ia diberi kebebasan memilih (ikhtiyar) dan kemampuan untuk membedakan (tamyiz).

Pesan Inti: Manusia diciptakan sempurna, diuji dengan kesulitan, diberikan indra yang canggih, dan yang terpenting, diberikan hidayah untuk membedakan antara yang haq dan batil. Konsekuensinya, ia bertanggung jawab penuh atas jalan mana yang ia pilih.


Fenomena Telur Berembrio: Eksotisme Kuliner atau Makanan Haram?

Antara Eksotisme Kuliner dan Syariat: Bagaimana Islam Memandang Telur Berembrio? Pernahkah Anda mendengar tentang Balut ? Di Filipina atau b...