Tafsir Surah Al-Balad ayat 11 merupakan peralihan penting dalam surah ini. Setelah Allah Subhana wa Ta'ala menjelaskan bahwa manusia telah diberi "dua jalan" (kebaikan dan keburukan) pada ayat 10, ayat 11 muncul sebagai sebuah teguran sekaligus tantangan bagi manusia.
Ayat 11 berbunyi:
فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ
(Fa laqtahama al-'aqabah)
"Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki lagi sukar."
1. Inti Ayat: Keengganan Menempuh Jalan Keselamatan
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini adalah bentuk celaan atau teguran kepada manusia (khususnya orang kafir atau mereka yang sombong dengan hartanya) karena mereka tidak mau menggunakan harta dan potensi mereka untuk melakukan amal shaleh yang berat namun menyelamatkan.
A. Makna Al-'Aqabah (Jalan Mendaki)
Secara bahasa, 'Aqabah berarti jalan di pegunungan yang mendaki, terjal, dan sulit dilewati. Namun, secara maknawi dalam tafsir ini:
Ibnu Katsir mengutip pendapat para ulama bahwa Al-'Aqabah adalah jalan menuju keselamatan dan surga.
Jalan ini disebut "mendaki dan sukar" karena berlawanan dengan hawa nafsu. Melakukan kebaikan seringkali terasa berat bagi jiwa yang kikir dan sombong.
B. Arti Kata Iqtahama
Kata Iqtahama berarti melintasi dengan paksa atau mengerahkan tenaga ekstra. Ini menunjukkan bahwa untuk masuk ke dalam kebaikan dan mencapai keridhaan Allah, diperlukan perjuangan, kesungguhan, dan pengorbanan.
2. Tafsir Menurut Pendapat Ulama Salaf
Dalam karyanya, Ibnu Katsir mencantumkan beberapa riwayat untuk menjelaskan hakikat "Jalan yang Mendaki" ini:
Qatadah: Ia berkata bahwa jalan mendaki itu adalah jalan yang sulit dan keras, maka tempuhlah jalan itu dengan ketaatan kepada Allah.
Ibnu Abbas: Menyebutkan bahwa Al-'Aqabah adalah rintangan di neraka. Orang yang tidak mampu "mendaki" atau melampaui rintangan amal di dunia, ia akan tertahan di sana.
Asy-Sya'bi: Menjelaskan bahwa rintangan ini ada dalam diri manusia sendiri, yaitu kikir dan hawa nafsu.
3. Hubungan dengan Ayat Selanjutnya (Penjelasan Amal)
Ayat 11 ini sebenarnya adalah sebuah pertanyaan atau pembuka yang akan dijawab oleh Allah sendiri pada ayat-ayat berikutnya (12-16).
Jika manusia bertanya, "Apa itu jalan yang mendaki lagi sukar?", maka Allah menjawabnya di ayat selanjutnya:
Melepaskan budak (kemerdekaan manusia).
Memberi makan pada hari kelaparan.
Menyantuni anak yatim dan orang miskin yang sangat melarat.
Kesimpulan:
Ayat 11 menegur manusia yang sombong (yang sebelumnya mengaku telah menghabiskan banyak harta untuk pamer), namun ketika dihadapkan pada amal nyata yang bernilai di sisi Allah (seperti menolong sesama), mereka justru kikir dan enggan melaluinya.