Rabu, 28 Januari 2026

Ibnu an-Nafis: Ilmuwan Muslim Penemu Sirkulasi Darah Paru-Paru Pertama d dunia


Ibnu an-Nafis: Sang Revolusioner di Balik Misteri Peredaran Darah

Dunia kedokteran modern berutang besar pada seorang pria bernama Ala-al-Din abu al-Hasan Ali bin Abi al-Hazm al-Qarshi, atau yang lebih dikenal sebagai Ibnu an-Nafis (1213–1288 M). Lahir di Damaskus dan berkarier di Kairo, ia adalah sosok yang berani mempertanyakan teori medis yang telah dianggap "suci" selama lebih dari seribu tahun.

1. Penemuan Sirkulasi Paru-Paru (Pulmonary Circulation)

Selama berabad-abad, dunia mengikuti teori Galen yang menyatakan bahwa darah berpindah dari sisi kanan jantung ke sisi kiri melalui lubang-lubang kecil yang tidak terlihat di dinding jantung (septum).

Ibnu an-Nafis dengan tegas membantah hal ini. Melalui observasi dan pembedahan yang teliti, ia menyatakan bahwa:

  • Dinding jantung (septum) sangat tebal dan tidak memiliki lubang.

  • Darah harus mengalir dari jantung kanan ke paru-paru melalui arteri pulmonalis.

  • Di dalam paru-paru, darah bercampur dengan udara dan kemudian mengalir kembali ke jantung kiri melalui vena pulmonalis.

Penemuan ini terjadi 300 tahun sebelum Michael Servetus dan William Harvey mempublikasikan temuan serupa di Eropa.

2. Mahakarya: Al-Shamil fi al-Sina'a al-Tibbiya

Ibnu an-Nafis menyusun ensiklopedia medis raksasa berjudul Al-Shamil fi al-Sina'a al-Tibbiya (Buku Komprehensif tentang Seni Kedokteran). Rencananya, buku ini akan terdiri dari 300 volume, namun ia hanya sempat menyelesaikan 80 volume sebelum wafat. Meskipun demikian, naskah ini menjadi bukti betapa luasnya pengetahuan medis yang ia miliki, mencakup teknik bedah, farmakologi, hingga dietetika.

3. Lebih dari Sekadar Dokter

Seperti ilmuwan Muslim lainnya di era keemasan, Ibnu an-Nafis adalah seorang polimatik. Selain ahli bedah, ia juga pakar dalam bidang:

  • Hukum Islam (Fiqh): Ia menjabat sebagai pakar hukum di Madrasah al-Masruriyya di Kairo.

  • Filsafat: Ia menulis novel filosofis berjudul Theologus Autodidactus, yang dianggap sebagai salah satu novel fiksi ilmiah/petualangan pertama di dunia.

4. Integritas Ilmiah dan Kemanusiaan

Ibnu an-Nafis dikenal sebagai dokter yang sangat memperhatikan etika. Ia menekankan pentingnya observasi langsung dan tidak ragu membuang teori lama jika terbukti salah secara empiris. Menjelang wafatnya, ia mewariskan seluruh rumah, perpustakaan, dan hartanya kepada Rumah Sakit Al-Mansuri di Kairo agar dapat digunakan untuk kepentingan pasien dan mahasiswa kedokteran.


Fakta Unik Ibnu an-Nafis:

  • Metode Empiris: Ia adalah penentang keras otoritas ilmu pengetahuan yang membabi buta. Baginya, bukti anatomi lebih valid daripada tulisan filosof kuno.

  • Pemecah Rekor: Hingga saat ini, ia diakui sebagai dokter pertama dalam sejarah yang menjelaskan sirkulasi darah di kapiler paru-paru secara akurat.

  • Seorang Sufi: Meskipun sangat saintifik, ia tetap seorang yang religius dan melihat sains sebagai cara untuk lebih memahami keagungan penciptaan Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fenomena Telur Berembrio: Eksotisme Kuliner atau Makanan Haram?

Antara Eksotisme Kuliner dan Syariat: Bagaimana Islam Memandang Telur Berembrio? Pernahkah Anda mendengar tentang Balut ? Di Filipina atau b...