Nasiruddin at-Tusi: Arsitek Langit dan Pelopor Matematika Modern
Dalam sejarah peradaban manusia, jarang ada sosok yang mampu bertahan di tengah amukan invasi besar dan tetap tegak membangun mercusuar ilmu pengetahuan. Muhammad bin Muhammad bin al-Hasan al-Tusi, atau yang dikenal sebagai Nasiruddin at-Tusi (1201–1274 M), adalah pengecualian tersebut.
Lahir di Tus (Iran modern), ia hidup di masa yang penuh gejolak akibat invasi Mongol. Namun, kecerdasannya begitu diakui bahkan oleh Hulagu Khan, pemimpin Mongol yang dikenal kejam, yang kemudian menjadikannya penasihat ilmiah kerajaan.
1. Revolusi Trigonometri: Melepaskan Diri dari Astronomi
Sebelum At-Tusi, trigonometri hanyalah alat bantu dalam astronomi untuk menghitung posisi bintang. At-Tusi melakukan perubahan revolusioner dalam bukunya Shakl al-Qatta'. Ia adalah orang pertama yang memperlakukan trigonometri sebagai disiplin ilmu matematika yang berdiri sendiri, terpisah dari astronomi. Ia merumuskan hukum sinus untuk segitiga bidang dan segitiga bola yang kita pelajari di sekolah hari ini.
2. Observatorium Maragheh: Laboratorium Tercanggih Abad Pertengahan
Puncak prestasi At-Tusi adalah pembangunan Observatorium Maragheh di Azerbaijan. Ini bukan sekadar tempat melihat bintang, melainkan institusi riset raksasa yang menampung lebih dari 400.000 naskah dan mengumpulkan para ilmuwan dari seluruh dunia, termasuk dari Cina.
Di sana, ia menciptakan instrumen astronomi baru yang sangat presisi untuk mencatat gerakan planet. Hasilnya adalah Zij-i Ilkhani, sebuah tabel astronomi yang sangat akurat yang digunakan para penjelajah dan astronom berabad-abad kemudian.
3. "Tusi Couple": Mengguncang Teori Ptolemaic
Salah satu kontribusi teknisnya yang paling luar biasa dalam fisika dan astronomi adalah "Tusi Couple" (Pasangan Tusi). Ini adalah perangkat geometris di mana sebuah lingkaran kecil berputar di dalam lingkaran besar yang diameternya dua kali lipat lingkaran kecil tersebut.
Penemuan ini sangat krusial karena berhasil menjelaskan gerakan linear dari gerakan rotasi. Model ini nantinya digunakan oleh Nicolaus Copernicus dalam bukunya yang terkenal, De revolutionibus orbium coelestium, untuk membuktikan bahwa bumi mengelilingi matahari.
4. Warisan Intelektual
At-Tusi bukan hanya seorang ilmuwan, tetapi juga seorang filsuf dan teolog. Karyanya, Akhlaq-i Nasiri, tetap menjadi naskah penting dalam etika Islam hingga hari ini. Ia mengajarkan bahwa bahkan di masa kehancuran perang, ilmu pengetahuan harus tetap diprioritaskan.
Fakta Menarik untuk Konten Anda:
Penyelamat Buku: Saat Baghdad hancur oleh Mongol, At-Tusi berhasil menyelamatkan ribuan naskah kuno dan membawanya ke perpustakaan Maragheh.
Koneksi Copernicus: Tanpa model matematika "Tusi Couple", teori heliosentris Copernicus mungkin tidak akan memiliki dasar geometris yang kuat.
Jenius Serbabisa: Ia menulis lebih dari 150 karya dalam bahasa Arab dan Persia yang mencakup astronomi, biologi, kimia, matematika, filsafat, hingga musik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar