Surat At-Tin ayat 8 berbunyi:
أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ
(a laisallāhu bi aḥkamil-ḥākimīn)
Artinya: "Bukankah Allah adalah Hakim yang paling adil?"
Tafsir Ibnu Katsir
Dalam kitab tafsirnya, Imam Ibnu Katsir menjelaskan ayat terakhir dari Surat At-Tin ini sebagai sebuah penutup yang sangat kuat dan pertanyaan retoris yang tidak terbantahkan. Ayat ini berfungsi sebagai kesimpulan logis dari seluruh argumen yang telah disampaikan pada ayat-ayat sebelumnya.
Menurut beliau, setelah Allah SWT menjelaskan:
Penciptaan manusia dalam bentuk terbaik (
aḥsanitaqwıˉm).
Kondisi kehinaan yang menimpa manusia yang ingkar (
asfalasaˉfilıˉn).
Janji pahala yang tidak terputus bagi orang beriman (
ajrungairumamnuˉn).
Teguran terhadap orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.
Maka, Allah menutup rangkaian argumen tersebut dengan pertanyaan yang menantang akal dan hati manusia: "Bukankah Allah Hakim yang paling adil?"
Inti dari penafsiran Ibnu Katsir adalah bahwa keadilan Allah SWT menuntut adanya hari pembalasan (kiamat). Tidaklah mungkin bagi Allah yang Maha Adil untuk menciptakan manusia dengan tujuan yang sia-sia, lalu menyamakan orang yang berbuat baik dengan orang yang berbuat maksiat di dunia ini. Keadilan-Nya mewajibkan adanya hari di mana setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan dan diberikan balasan yang setimpal.
Sunnah Setelah Membaca Ayat Ini
Ibnu Katsir juga menyebutkan sunnah yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad ﷺ setelah membaca ayat terakhir ini. Berdasarkan riwayat hadis, ketika seseorang membaca Surat At-Tin hingga ayat terakhir, disunahkan baginya untuk menjawab pertanyaan Allah dengan ucapan:
بَلَىٰ وَأَنَا عَلَىٰ ذَٰلِكَ مِنَ الشَّاهِدِينَ
(Balā wa anā 'alā dzālika minasy syāhidīn)
Artinya: "Benar, dan aku termasuk orang-orang yang menyaksikan hal itu."
Ucapan ini adalah bentuk pengakuan dan penegasan seorang hamba atas keimanannya. Ini menunjukkan keyakinan mutlak bahwa Allah adalah Hakim yang paling adil dan ia bersaksi atas kebenaran tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar