Surat At-Tin ayat 7 berbunyi:
فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ
(fa mā yukażżibuka ba'du bid-dīn)
Artinya: "Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan setelah (adanya keterangan-keterangan) itu?"
Dalam kitab tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini sebagai sebuah pertanyaan retoris yang sangat keras dan penuh celaan dari Allah SWT. Pertanyaan ini ditujukan kepada manusia yang tetap ingkar dan mendustakan hari pembalasan (kiamat), padahal telah diberikan begitu banyak bukti yang jelas.
Inti Penafsiran Ibnu Katsir
Menurut Ibnu Katsir, ayat ini adalah kesimpulan logis dari seluruh rangkaian argumen yang dibangun sejak awal surat:
Sumpah Allah: Allah bersumpah dengan tempat-tempat yang mulia (buah Tin, buah Zaitun, Gunung Sinai, dan Mekkah), yang menunjukkan pentingnya pesan yang akan disampaikan.
Penciptaan Sempurna: Manusia diciptakan dalam bentuk yang paling baik (
aḥsanitaqwıˉm), dengan akal, fisik, dan potensi yang sempurna. Ini adalah bukti nyata kekuasaan Allah.
Kondisi Kehinaan: Kemudian, manusia bisa jatuh ke derajat yang paling rendah (
asfalasaˉfilıˉn) jika tidak beriman dan beramal saleh. Ini adalah konsekuensi dari pilihan manusia itu sendiri.
Pengecualian bagi Orang Beriman: Ada pengecualian bagi orang yang beriman dan beramal saleh, yang akan mendapatkan pahala yang tidak putus-putus. Ini menunjukkan adanya sistem pembalasan yang adil.
Ibnu Katsir menegaskan bahwa setelah semua penjelasan dan bukti tersebut, tidak ada lagi alasan bagi manusia untuk mendustakan hari pembalasan. Bukti-bukti yang ada sudah lebih dari cukup untuk meyakinkan akal sehat bahwa akan ada hari di mana manusia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Beliau juga menyoroti bahwa kata "mā" (apa) dalam ayat ini berfungsi sebagai pertanyaan yang mencela (istifham inkar). Ini bukan pertanyaan yang butuh jawaban, melainkan sebuah teguran keras yang menyatakan bahwa sikap mendustakan hari pembalasan adalah perbuatan yang tidak masuk akal.
Dengan demikian, menurut Ibnu Katsir, ayat ini adalah peringatan tegas bagi setiap manusia. Ia menyeru manusia untuk merenungkan kembali penciptaan dirinya dan tujuan hidupnya, serta mempertimbangkan konsekuensi dari pilihan hidup yang ia ambil, yaitu antara kehinaan abadi atau pahala yang tak terhingga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar