Tafsir Ibnu Katsir Surat At-Tin Ayat 6
Surat At-Tin ayat 6 berbunyi:
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ
(illallażīna āmanụ wa 'amiluṣ-ṣāliḥāti fa lahum ajrun gairu mamnụn)
Artinya: "Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya."
Dalam kitab tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini sebagai pengecualian dari kondisi kehinaan yang disebutkan pada ayat sebelumnya (
). Beliau merujuk pada dua penafsiran utama untuk ayat 5, dan ayat 6 ini menjadi penjelas bagi keduanya.
1. Pengecualian dari Neraka
Menurut penafsiran pertama, yang juga dikuatkan oleh Ibnu Katsir, ayat 5 merujuk pada neraka sebagai "tempat yang serendah-rendahnya". Ayat 6 ini kemudian menjadi pengecualian yang sangat jelas:
Manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya (
aḥsanitaqwıˉm), tetapi jika ia tidak beriman dan tidak beramal saleh, ia akan jatuh ke dalam kehinaan yang paling dalam, yaitu neraka.
Akan tetapi, orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal saleh akan mendapatkan pengecualian. Mereka tidak akan jatuh ke dalam kehinaan neraka, sebaliknya, mereka akan meraih pahala yang tidak ada putus-putusnya (
ajrungairumamnuˉn), yaitu kenikmatan abadi di surga.
Ibnu Katsir mengaitkan pola ini dengan surat Al-'Asr, di mana manusia secara umum berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Ini adalah tema umum dalam Al-Qur'an: keimanan dan amal saleh adalah kunci keselamatan dari kehinaan dan kerugian.
2. Pengecualian dari Kelemahan Pikun
Jika ayat 5 ditafsirkan sebagai kondisi pikun di masa tua, maka ayat 6 ini memberikan keringanan yang luar biasa bagi orang-orang beriman.
Manusia akan mengalami fase di mana kekuatan fisik dan akalnya melemah. Ia tidak lagi mampu beramal seperti saat muda dan sehat.
Namun, bagi orang yang beriman dan dahulu rajin beramal saleh, Allah tidak akan memutuskan pahala amalnya. Meskipun ia menjadi pikun dan tidak bisa beribadah sempurna, pahala dari amalan yang dilakukannya saat masih sehat akan terus mengalir. Ini adalah pahala yang tidak putus-putus (
ajrungairumamnuˉn).
Ibnu Katsir menyebutkan hadis dari Anas bin Malik dan Ali bin Abi Thalib yang mendukung penafsiran ini. Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila seorang hamba sudah memasuki masa tua, Allah akan mencatat pahala dari amal yang ia lakukan saat masih muda."
Kesimpulan
Ibnu Katsir melihat kedua penafsiran ini memiliki sisi benarnya, tetapi beliau cenderung lebih kuat pada penafsiran pertama yang mengaitkan "asfala sāfilīn" dengan neraka. Namun, beliau juga menjelaskan bahwa ayat 6 dapat diartikan sebagai janji Allah untuk terus memberikan pahala kepada orang yang beriman dan beramal saleh, bahkan saat mereka sudah tua dan tak berdaya.
Secara keseluruhan, ayat ini menegaskan bahwa keimanan dan amal saleh adalah satu-satunya jalan keluar dari segala bentuk kehinaan, baik kehinaan di dunia (lemah dan pikun) maupun kehinaan di akhirat (neraka). Orang-orang beriman akan mendapatkan balasan yang mulia dan abadi dari Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar