Surat At-Tin ayat 5 berbunyi:
ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ
(ṡumma radadnāhu asfala sāfilīn)
Artinya: "Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya."
Dalam kitab tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini dengan menyoroti dua pendapat utama yang ada di kalangan ulama, lalu beliau memberikan pandangan yang lebih kuat.
1. Tafsir "Tempat yang Serendah-rendahnya" sebagai Neraka
Ibnu Katsir mengutip beberapa ulama seperti Mujahid, Abul 'Aliyah, dan Al-Hasan yang menafsirkan "asfala sāfilīn" (tempat yang serendah-rendahnya) sebagai neraka.
Menurut pandangan ini, makna ayat sebelumnya (
) yang menyatakan manusia diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya, adalah sebuah sumpah dari Allah. Kemudian, ayat kelima ini menjadi pengecualian bagi orang-orang yang ingkar. Manusia diciptakan dengan potensi terbaik, baik fisik maupun akal. Namun, jika mereka tidak menggunakan potensi tersebut untuk beriman dan beramal saleh, maka mereka akan jatuh ke dalam kehinaan yang paling parah, yaitu azab neraka.
Ibnu Katsir mendukung penafsiran ini dengan membandingkan ayat ini dengan ayat-ayat dalam surat Al-Asr, yaitu:
وَالْعَصْرِ ۙ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۙ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ...
(wal-'aṣr, innal-insāna lafī khusr, illallażīna āmanụ wa 'amiluṣ-ṣāliḥāti...)
Artinya: "Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan..."
Kesamaan pola ayat ini (
) dengan ayat 5 dan 6 surat At-Tin (
) menunjukkan bahwa pengecualian tersebut berlaku untuk orang-orang beriman, sementara sisanya akan mendapat kerugian atau kehinaan.
2. Tafsir "Tempat yang Serendah-rendahnya" sebagai Masa Tua
Ibnu Katsir juga menyebutkan pendapat lain yang menafsirkan "asfala sāfilīn" sebagai masa tua yang sangat lemah dan pikun. Ia meriwayatkan pendapat ini dari ulama seperti Ibnu Abbas dan 'Ikrimah.
Menurut penafsiran ini, ayat 5 menggambarkan kondisi fisik manusia yang secara berangsur-angsur melemah hingga kembali ke kondisi tak berdaya seperti anak-anak, bahkan lebih buruk. Akal dan kemampuan berpikir mereka menjadi berkurang.
Namun, Ibnu Katsir lebih menguatkan pendapat yang pertama. Beliau menjelaskan bahwa makna "kecuali orang-orang yang beriman" pada ayat selanjutnya lebih tepat merujuk pada pembalasan akhirat, yaitu neraka. Karena, orang yang beriman pun bisa mengalami masa tua yang pikun. Jika "asfala sāfilīn" adalah pikun, maka pengecualian bagi orang beriman menjadi kurang relevan.
Oleh karena itu, Ibnu Katsir cenderung pada penafsiran bahwa "asfala sāfilīn" adalah neraka, karena neraka adalah tempat paling rendah dan paling hina yang ditakdirkan bagi manusia yang ingkar. Sedangkan ayat 6 berfungsi sebagai pengecualian yang menegaskan bahwa orang-orang beriman akan mendapatkan pahala yang tidak putus-putus, bahkan saat mereka memasuki masa tua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar