Surat Al-Lail ayat 1 berbunyi:
وَٱلَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰ
Latin: Wal-laili iżā yagsyā
Artinya: "Demi malam apabila menutupi (cahaya siang),"
Menurut Tafsir Ibnu Katsir, Allah SWT bersumpah dengan malam apabila ia menyelimuti seluruh makhluk dengan kegelapannya. Sumpah ini termasuk dalam serangkaian sumpah yang disebutkan di awal surat ini, yaitu demi malam, siang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan.
Poin-poin penting dari tafsir Ibnu Katsir mengenai ayat ini dan ayat-ayat selanjutnya adalah:
Sumpah Allah: Allah SWT bersumpah dengan malam ketika kegelapan telah menyelimuti alam semesta. Ini menunjukkan keagungan dan kekuasaan-Nya dalam menciptakan fenomena alam yang berlawanan.
Keterkaitan dengan Sumpah Lain: Ayat ini tidak bisa dipisahkan dari ayat berikutnya, yaitu "dan siang apabila terang benderang" (
وَٱلنَّهَارِإِذَاتَجَلَّىٰ) dan "dan penciptaan laki-laki dan perempuan" (
وَمَاخَلَقَٱلذَّكَرَوَٱلْأُنثَىٰٓ). Ibnu Katsir menjelaskan bahwa sumpah dengan hal-hal yang berlawanan ini (malam-siang, laki-laki-perempuan) memiliki keterkaitan dengan isi sumpah itu sendiri, yaitu bahwa "sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda" (
إِنَّسَعْيَكُمْلَشَتَّىٰ).
Makna Sumpah: Sumpah-sumpah ini digunakan untuk menegaskan bahwa perbuatan dan amal manusia itu bermacam-macam dan berlawanan. Ada yang berbuat baik dan ada yang berbuat buruk.
Konteks Keseluruhan Surat: Tafsir Ibnu Katsir memandang bahwa ayat ini adalah permulaan dari penjelasan mengenai dua golongan manusia:
Orang yang berinfak, bertakwa, dan membenarkan pahala terbaik (surga), yang akan dimudahkan jalannya menuju kebahagiaan.
Orang yang kikir, merasa cukup tanpa Allah, dan mendustakan pahala terbaik, yang akan dimudahkan jalannya menuju kesengsaraan.
Dengan demikian, tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat pertama Surat Al-Lail, meskipun singkat, merupakan bagian dari rangkaian sumpah Allah untuk menegaskan perbedaan amal perbuatan manusia dan konsekuensinya di akhirat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar