Surah Ad-Dhuha ayat 11 berbunyi:
"وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ"
(Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.)
Dalam tafsir Ibnu Katsir, ayat terakhir dari Surah Ad-Dhuha ini adalah perintah puncak yang melengkapi tiga nikmat sebelumnya (perlindungan, petunjuk, dan kecukupan) serta dua perintah setelahnya (jangan menindas anak yatim dan jangan menghardik orang yang meminta-minta).
Ibnu Katsir menjelaskan makna ayat ini sebagai berikut:
Makna "Fahaddits": Kata "Fahaddits" berarti "menceritakan," "menyebutkan," atau "menyiarkan." Ayat ini memerintahkan untuk menceritakan nikmat-nikmat yang telah Allah berikan. Namun, Ibnu Katsir menekankan bahwa ini bukanlah perintah untuk pamer atau sombong. Menceritakan nikmat adalah bagian dari "Tahadduts bin-Ni'mah" (menyatakan nikmat), yang merupakan bentuk syukur kepada Allah.
Bentuk Syukur yang Meluas: Menceritakan nikmat tidak hanya dilakukan dengan lisan, tetapi juga dengan perbuatan. Ini dapat diwujudkan dalam beberapa cara:
Syukur Lisan: Menyebut dan memuji Allah SWT atas segala nikmat yang diberikan, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain, dengan niat untuk memotivasi dan mengingatkan tentang kebesaran Allah.
Syukur Perbuatan: Menggunakan nikmat tersebut di jalan Allah, misalnya dengan bersedekah dari harta yang diberikan-Nya, menggunakan ilmu yang diperoleh untuk kebaikan umat, atau membantu orang lain dengan posisi atau kekuatan yang dimiliki. Ini adalah manifestasi dari rasa syukur yang nyata.
Konteks dengan Ayat Sebelumnya: Ayat ini adalah penutup yang sempurna untuk surah ini. Setelah Allah mengingatkan Nabi Muhammad SAW akan perlindungan-Nya (ayat 6), petunjuk-Nya (ayat 7), dan kecukupan-Nya (ayat 8), serta memerintahkannya untuk berbuat baik kepada anak yatim (ayat 9) dan orang yang meminta-minta (ayat 10), maka ayat 11 ini memerintahkan beliau untuk menyiarkan nikmat-nikmat tersebut sebagai bentuk rasa syukur. Dengan kata lain, segala kebaikan yang dilakukan Nabi adalah wujud dari rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan.
Secara keseluruhan, tafsir Ibnu Katsir mengajarkan bahwa ayat ini adalah perintah untuk mensyukuri segala nikmat yang telah Allah berikan, baik yang bersifat materi maupun non-materi, dengan cara menyiarkannya (menceritakannya) dan menggunakannya untuk kebaikan, bukan untuk riya' atau kesombongan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar