Rabu, 03 September 2025

"Tuhanmu Tidak Pernah Meninggalkanmu" | Tafsir Surat Ad-Dhuha Ayat 3




Tafsir Surat Ad-Dhuha Ayat 3

Ayat 3:

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ

(Mā wadda'aka rabbuka wa mā qalā)

"Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak (pula) membencimu."


1. Inti dari Surat Ad-Dhuha

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini adalah puncak dan jawaban utama dari dua sumpah yang telah disebutkan di ayat 1 dan 2. Sumpah dengan waktu dhuha dan malam adalah penguat (penegasan) untuk pesan utama di ayat ini.

Ayat ini secara langsung membantah tuduhan dan ejekan dari kaum musyrik yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ telah ditinggalkan oleh Tuhannya, atau wahyu dari malaikat Jibril telah terhenti.

2. Penjelasan Kata "Wadda'aka" dan "Qalā"

  • مَا وَدَّعَكَ (Mā wadda'aka): "Tuhanmu tidak meninggalkanmu." Kata "wadda'a" berasal dari kata wada' yang berarti perpisahan atau pamitan. Ibnu Katsir menafsirkan bahwa maknanya adalah Allah tidak memutus hubungan dengan Nabi Muhammad ﷺ. Tidak ada perpisahan, bahkan setelah wahyu sempat terhenti sesaat.

  • وَمَا قَلَىٰ (wa mā qalā): "dan tidak (pula) membencimu." Kata "qalā" artinya benci, marah, atau jengkel. Ini adalah bantahan kedua yang lebih kuat. Bukan hanya Allah tidak meninggalkan Nabi, tapi Dia juga tidak pernah membencinya. Justru sebaliknya, Allah mencintai dan meridhai beliau.

3. Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)

Ayat ini sangat erat kaitannya dengan sebab turunnya surat ini. Ibnu Katsir menyebutkan riwayat dari Jundub bin Abdullah Al-Bajali dan lainnya, yang menceritakan bahwa ketika Nabi Muhammad ﷺ sakit dan tidak bangun untuk shalat malam, seorang wanita datang dan berkata, "Wahai Muhammad, menurutku setanmu telah meninggalkanmu."

Ucapan ini sangat menyakitkan hati Nabi, dan ayat ini turun sebagai penghibur dan penenang. Dengan tegas, Allah mengatakan bahwa Dia tidak meninggalkan atau membenci beliau. Ini adalah bentuk kasih sayang dan perlindungan Allah kepada Nabi-Nya.

4. Ketenangan untuk Umat

Tafsir Ibnu Katsir juga menyiratkan bahwa ayat ini tidak hanya berlaku untuk Nabi Muhammad ﷺ, tetapi juga memberikan pelajaran berharga bagi seluruh umat Islam.

Terkadang kita merasa "ditinggalkan" oleh Allah ketika menghadapi kesulitan, doa tidak segera terkabul, atau mengalami musibah. Ayat ini menjadi pengingat bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang beriman, dan Dia tidak pernah membenci. Ujian yang kita hadapi adalah bagian dari rencana-Nya yang penuh hikmah.

Jadi, secara ringkas, Tafsir Ibnu Katsir untuk ayat 3 ini menegaskan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan atau membenci Nabi Muhammad ﷺ, dan ayat ini merupakan bentuk penghiburan ilahi serta bantahan langsung terhadap tuduhan musuh. Ayat ini juga menjadi sumber ketenangan dan keyakinan bagi setiap mukmin yang sedang menghadapi ujian dalam hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fenomena Telur Berembrio: Eksotisme Kuliner atau Makanan Haram?

Antara Eksotisme Kuliner dan Syariat: Bagaimana Islam Memandang Telur Berembrio? Pernahkah Anda mendengar tentang Balut ? Di Filipina atau b...