Selasa, 14 Oktober 2025

Hikmah Siang Hari: Penjelasan Ibnu Katsir Mengenai Asy-Syams Ayat 3




Tafsir Surat Asy-Syams Ayat 3 Menurut Ibnu Katsir

Ayat ke-3 dari Surat Asy-Syams berbunyi:

(Wan-nahāri izā jallāhā)

Artinya: "Dan siang apabila menampakkannya,"

Ayat ini adalah sumpah Allah Subhanahu wa Ta'ala yang ketiga, yaitu dengan siang hari (An-Nahār). Sumpah ini kembali menegaskan keteraturan sistem alam semesta.

1. Sumpah dengan Siang (Wan-Nahār)

Allah bersumpah demi siang hari, waktu dimana segala aktivitas dan pencarian rezeki manusia dilakukan.

2. Makna Izā Jallāhā (Apabila Menampakkannya)

Fokus utama penafsiran pada ayat ini adalah kata "جَلَّاهَا" (jallāhā), yang berarti menampakkan atau memperlihatkan.

Ibnu Katsir mencatat beberapa pandangan ulama mengenai apa yang ditampakkan oleh siang:

A. Menampakkan Matahari

Pendapat yang paling kuat dan dipilih oleh Ibnu Jarir At-Thabari (yang sering dirujuk Ibnu Katsir) adalah bahwa dhamir (kata ganti)-nya merujuk kepada matahari (yang disebutkan di ayat 1).

  • Maksudnya: Allah bersumpah dengan siang hari, yaitu ketika siang itu datang dan menampakkan matahari secara sempurna, menjadikannya terang benderang. Siang hari bertanggung jawab menyingkap kegelapan dan membuat cahaya matahari terlihat jelas di seluruh permukaan bumi.

B. Siang yang Cerah dan Menerangi

  • Mujahid menafsirkan jallāhā sebagai kondisi cuaca bila cerah (terang benderang).

  • Qatadah menafsirkannya sebagai kondisi siang hari yang menerangi semuanya (seluruh bumi).

C. Mengusir Kegelapan

Sebagian ahli bahasa Arab menafsirkan jallāhā dengan pengertian siang hari apabila mengusir gelapnya malam hari.

Kesimpulan Tafsir Ibnu Katsir

Ibnu Katsir menyimpulkan bahwa yang paling tepat adalah menafsirkan dhamir tersebut kembali kepada matahari, karena mataharilah yang menjadi subjek utama pembicaraan sebelumnya (ayat 1).

Oleh karena itu, Allah bersumpah dengan siang yang datang dan menampakkan cahaya matahari secara total. Sumpah ini, bersama dengan sumpah matahari dan bulan, menggambarkan siklus terang yang teratur dan sempurna di alam semesta, sebuah bukti yang nyata akan keesaan dan kekuasaan Pencipta, sebelum Dia beralih membahas nasib jiwa manusia.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fenomena Telur Berembrio: Eksotisme Kuliner atau Makanan Haram?

Antara Eksotisme Kuliner dan Syariat: Bagaimana Islam Memandang Telur Berembrio? Pernahkah Anda mendengar tentang Balut ? Di Filipina atau b...