Kamis, 16 Oktober 2025

The Majesty of the Night: Ibn Kathir's Explanation of Surah Ash-Shams Verse 4




Tafsir Surat Asy-Syams Ayat 4 Menurut Ibnu Katsir

Ayat ke-4 dari Surat Asy-Syams berbunyi:

وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا

(Wal-laili izā yaghsyāhā)

Artinya: "Dan malam apabila menutupinya (matahari atau bumi),"

Ayat ini adalah sumpah Allah Subhanahu wa Ta'ala yang keempat, yaitu dengan malam hari (Al-Lail). Sumpah ini diposisikan berpasangan dengan sumpah siang hari di ayat sebelumnya, menunjukkan dualisme sempurna dalam penciptaan.

1. Sumpah dengan Malam (Wal-Laili)

Allah bersumpah demi malam, waktu dimana kegelapan meliputi bumi, yang berfungsi sebagai waktu istirahat dan ketenangan bagi makhluk hidup.

2. Makna Izā Yaghsyāhā (Apabila Menutupinya)

Fokus utama penafsiran pada ayat ini adalah kata "يَغْشَاهَا" (yaghsyāhā), yang berarti menutupi, menyelimuti, atau meliputi.

Sama seperti ayat sebelumnya, para ulama berbeda pendapat mengenai dhamir (kata ganti) "ها" (-) yang ditutupi oleh malam:

A. Menutupi Matahari (Pendapat Kuat)

Pendapat yang paling kuat dan yang disukai oleh sebagian besar ulama, termasuk Ibnu Jarir At-Thabari (yang sering dijadikan rujukan Ibnu Katsir), adalah bahwa dhamir tersebut merujuk kepada matahari (yang disebutkan di ayat 1).

  • Maksudnya: Allah bersumpah dengan malam hari, yaitu ketika malam itu datang dan menutupi matahari saat ia tenggelam, sehingga seluruh cakrawala dan bumi menjadi gelap. Ini adalah pemandangan luar biasa yang terjadi setiap hari, menunjukkan transisi sempurna yang diatur oleh Allah.

  • Ibnu Katsir sendiri cenderung menguatkan pendapat ini karena konsistensinya dengan dhamir pada ayat 3 (Wan-nahāri izā jallāhā), di mana siang menampakkan matahari, dan malam menutupinya.

B. Menutupi Bumi

Sebagian ulama lain menafsirkan yaghsyāhā merujuk kepada bumi atau alam semesta.

  • Maksudnya: Malam datang dan menutupi atau menyelimuti permukaan bumi dengan kegelapan, sehingga memadamkan aktivitas siang.

3. Kontras Siang dan Malam

Sumpah berpasangan dengan ayat sebelumnya (siang apabila menampakkannya dan malam apabila menutupinya) menunjukkan:

  1. Keteraturan Ilahi: Perputaran siang dan malam yang kontras namun teratur adalah tanda kekuasaan Allah yang mutlak.

  2. Keseimbangan: Malam membawa kegelapan, sedangkan siang membawa cahaya. Keduanya sangat penting bagi kehidupan di bumi.

Keteraturan kosmik yang luar biasa ini menjadi penekanan kuat sebelum Allah Subhanahu wa Ta'ala membawa perhatian manusia pada urusan jiwa mereka sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fenomena Telur Berembrio: Eksotisme Kuliner atau Makanan Haram?

Antara Eksotisme Kuliner dan Syariat: Bagaimana Islam Memandang Telur Berembrio? Pernahkah Anda mendengar tentang Balut ? Di Filipina atau b...