Jumat, 17 Oktober 2025

Keagungan Arsitektur Kosmik: Penjelasan Ibnu Katsir Mengenai Asy-Syams Ayat 5

Keajaiban Arsitektur Kosmik: Tafsir Surat Asy-Syams Ayat 5 Menurut Ibnu Katsir

Surat Asy-Syams terus menyuguhkan rentetan sumpah-sumpah ilahi yang menakjubkan, beralih dari siklus waktu (matahari, bulan, siang, malam) menuju dimensi ruang yang luas, yaitu langit dan bumi. Ayat kelima dari surat ini berbunyi:

{وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَا}

(Was-samā’i wa mā banāhā)

Artinya: "Dan langit serta pembinaannya (atau: dan langit serta Yang Membinanya),"

Dalam karyanya yang agung, Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, Imam Ibnu Katsir mengupas makna sumpah ini dengan menjelaskan dua kemungkinan utama di balik frasa "وَمَا بَنَاهَا" (wa mā banāhā).

1. Sumpah Demi Langit (Was-Samā’i)

Sebelum membahas frasa kuncinya, Ibnu Katsir menggarisbawahi keagungan subjek sumpah, yaitu langit. Langit adalah ciptaan yang Maha Agung dan kokoh, yang berdiri tanpa tiang penyangga yang terlihat, serta menjadi tempat beredarnya triliunan benda langit dalam keteraturan yang sempurna. Allah bersumpah dengan makhluk ini sebagai bukti nyata atas Kekuasaan dan Kehebatan Sang Pencipta.

2. Dua Penafsiran Kunci Mengenai Mā Banāhā

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa partikel "مَا" () dalam frasa ini dapat memiliki dua makna dalam tata bahasa Arab (Nahwu), dan kedua makna tersebut menunjukkan kemahakuasaan Allah.

A. Mā Mashdariyah: Sumpah Demi Tindakan Pembangunan

Jika kata diartikan sebagai mā mashdariyah (yang mengubah kata kerja menjadi kata benda, merujuk pada tindakan), maka penekanannya adalah pada proses pembangunannya.

  • Makna: Allah bersumpah dengan langit dan kesempurnaan pembinaannya.

  • Penafsiran ini menyoroti bagaimana Allah menciptakan langit dengan struktur yang paling agung, tinggi, luas, dan kokoh. Ini adalah pemandangan arsitektur kosmik yang tidak tertandingi oleh ciptaan manusia mana pun. Pendapat ini dianut oleh ulama seperti Qatadah.

B. Mā Mausūlah: Sumpah Demi Sang Pencipta

Jika kata diartikan sebagai mā mausūlah (yang berfungsi seperti kata "siapa" atau man—merujuk pada subjek yang melakukan tindakan), maka sumpah ini secara implisit merujuk kepada Allah sendiri.

  • Makna: Allah bersumpah dengan langit dan Demi Zat yang Membinanya (yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala).

  • Penafsiran ini adalah bentuk sumpah tertinggi, di mana Allah bersumpah demi makhluk-Nya dan demi Diri-Nya Sendiri (sebagai Pembina Langit). Hal ini semakin memperkuat keagungan sumpah tersebut.

3. Korelasi dengan Ayat Lain

Ibnu Katsir sering mengaitkan ayat ini dengan firman Allah di tempat lain, seperti dalam Surat Adz-Dzariyat ayat 47:

{وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ}

“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.”

Pengaitan ini menegaskan bahwa langit dibangun dengan Kekuatan Agung (bi aydin), membuktikan bahwa objek sumpah ini adalah manifestasi sempurna dari keagungan Allah.

Pesan Sentral

Dengan bersumpah demi langit yang megah dan sempurna, Allah mengalihkan fokus dari keteraturan waktu (ayat 1-4) menuju dimensi ruang dan kekokohan penciptaan. Langit yang sangat tertata dan tidak runtuh menjadi analogi bagi manusia: jika alam semesta yang begitu besar saja diciptakan dan diatur dengan ketelitian mutlak, maka manusia seharusnya percaya bahwa Dia mampu mengatur dan meminta pertanggungjawaban atas jiwa mereka, yang merupakan inti dari surat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fenomena Telur Berembrio: Eksotisme Kuliner atau Makanan Haram?

Antara Eksotisme Kuliner dan Syariat: Bagaimana Islam Memandang Telur Berembrio? Pernahkah Anda mendengar tentang Balut ? Di Filipina atau b...