Bukti Nyata Kekuasaan Allah: Tafsir Surat Asy-Syams Ayat 6 Mengenai Penghamparan Bumi
Surat Asy-Syams melanjutkan serangkaian sumpah kosmik yang menakjubkan, beralih dari keagungan langit (ayat 5) menuju subjek yang lebih dekat dengan kehidupan manusia, yaitu bumi. Ayat keenam ini melengkapi pasangan sumpah ruang, berbunyi:
(Wal-arḍi wa mā ṭaḥāhā)
Artinya: "Dan bumi serta penghamparannya (atau: dan bumi serta Yang Menghamparkannya),"
Dalam kajian tafsirnya, Imam Ibnu Katsir menguraikan makna sumpah ini sebagai bukti kekuasaan Allah yang tak terbantahkan, menyiapkan jiwa manusia untuk pesan moral yang akan datang.
1. Sumpah Demi Bumi (Wal-Arḍi)
Setelah bersumpah demi langit yang kokoh sebagai atap, Allah bersumpah demi bumi (Al-Arḍ) yang dijadikan sebagai hamparan. Bumi adalah tempat hidup, beraktivitas, dan mencari rezeki, yang menyimpan segala potensi dan sumber daya untuk menunjang kehidupan.
2. Memahami Makna Ṭaḥāhā (Penghamparan)
Inti dari ayat ini terletak pada frasa "وَمَا طَحَاهَا" (wa mā ṭaḥāhā). Secara kebahasaan, ṭaḥā berarti membentangkan, menghamparkan, atau meluaskan. Ibnu Katsir mencatat beberapa interpretasi mengenai frasa ini, yang semuanya mengarah pada keagungan Penciptaan:
A. Mā Mashdariyah: Menekankan Tindakan Penghamparan
Apabila partikel "مَا" (mā) dipahami sebagai mā mashdariyah (yang merujuk pada tindakan), maka maknanya adalah: Allah bersumpah dengan bumi dan proses penghamparannya.
Ulama seperti Mujahid menafsirkan ṭaḥāhā sebagai penghamparan bumi. Ini menunjukkan bahwa Allah menjadikan bumi luas, terbentang, dan rata (dalam pengertian layak huni dan mudah dilalui) agar manusia dapat berdiam di atasnya dengan nyaman, membangun, bercocok tanam, dan melakukan perjalanan.
B. Mā Mausūlah: Menekankan Sang Penghampar (Allah)
Apabila mā dipahami sebagai mā mausūlah (yang merujuk pada Zat yang melakukan tindakan), maka sumpah ini adalah: Allah bersumpah dengan bumi dan Demi Zat yang Menghamparkannya (yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala).
Penafsiran ini mengarahkan pembaca untuk mengagungkan Dzat Pencipta itu sendiri yang memiliki Kekuasaan untuk mengatur dan membentangkan hamparan yang begitu luas dan stabil.
3. Ayat Pendukung dalam Al-Qur'an
Untuk memperkuat makna ṭaḥāhā, Ibnu Katsir kerap merujuk pada ayat-ayat lain yang senada, seperti dalam Surat Adz-Dzariyat ayat 48:
“Dan bumi itu Kami hamparkan; maka sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami).”
Ayat ini mempertegas bahwa penciptaan bumi bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil perencanaan ilahi yang menjadikannya firāsh (hamparan) dan mihād (tempat yang disiapkan) bagi kehidupan.
Pesan Akhir dari Enam Sumpah Kosmik
Ayat 6 ini menutup rangkaian sumpah mengenai alam semesta (Matahari, Bulan, Siang, Malam, Langit, dan Bumi). Rangkaian ciptaan yang sempurna, teratur, dan berpasangan ini adalah hujjah (bukti) yang paling kuat bagi manusia.
Tujuan dari enam sumpah kosmik ini adalah untuk:
Mengarahkan perhatian manusia pada Kekuasaan Mutlak Allah.
Menanamkan keyakinan bahwa Dzat yang mampu mengatur seluruh alam raya dengan presisi demikian rupa, pasti mampu dan berhak untuk mengatur kehidupan jiwa manusia, yang akan menjadi pembahasan di ayat selanjutnya, yaitu mengenai ilham kebaikan dan keburukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar