Selasa, 21 Oktober 2025

Tafsir Surat Asy-Syams Ayat 7: Makna Sumpah Demi Jiwa yang Sempurna (Ibnu Katsir)




Puncak Sumpah Ilahi: Tafsir Surat Asy-Syams Ayat 7 Mengenai Kesempurnaan Penciptaan Jiwa

Surat Asy-Syams (Matahari) memuat serangkaian sumpah yang agung, dimulai dari benda-benda kosmik terbesar—matahari, bulan, siang, malam, langit, dan bumi—sebagai bukti kekuasaan Allah. Rangkaian enam sumpah ini mencapai puncaknya pada sumpah ketujuh, yang berfokus pada makhluk yang paling kompleks dan terdekat dengan manusia itu sendiri: jiwa.

Ayat ketujuh dari surat ini berbunyi:

{وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا}

(Wa nafsin wa mā sawwāhā)

Artinya: "Dan demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaan-Nya),"

Imam Ibnu Katsir, dalam tafsirnya, menjelaskan bahwa perpindahan fokus sumpah dari alam semesta menuju jiwa manusia bukanlah kebetulan, melainkan penekanan pada subjek utama surat: pertanggungjawaban moral individu.

1. Sumpah dengan Jiwa (Wa Nafsin)

Kata "نَفْسٍ" (Nafs) diterjemahkan sebagai jiwa, yang mencakup hakikat batiniah manusia: kesadaran, roh, akal, perasaan, kehendak, dan motivasi.

Setelah mengagungkan benda-benda alam yang luas, Allah bersumpah demi jiwa. Hal ini menegaskan bahwa jiwa, meskipun secara fisik kecil dibandingkan galaksi, memiliki kompleksitas, keunikan, dan nilai yang sangat tinggi di sisi Allah. Ia adalah pusat dari kehendak, pilihan, dan amal perbuatan.

2. Makna Mā Sawwāhā: Penyempurnaan Penciptaan

Fokus tafsir terletak pada frasa "وَمَا سَوَّاهَا" (wa mā sawwāhā), yang mengandung makna penyempurnaan, pelurusan, atau penyeimbangan penciptaan.

Sebagaimana pada ayat-ayat sebelumnya, kata dapat ditafsirkan dalam dua cara, yang keduanya mengarah pada keagungan ilahi:

A. Mā Mashdariyah: Kesempurnaan Proses Penciptaan

Jika diartikan sebagai mā mashdariyah (merujuk pada tindakan), maknanya adalah: Allah bersumpah dengan jiwa dan proses penciptaannya yang sempurna.

Ini sejalan dengan firman Allah di tempat lain:

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4).

Penyempurnaan ini tidak hanya bersifat fisik (tulang, otot, organ), tetapi juga psikologis dan spiritual, di mana manusia dibekali akal dan potensi untuk memilih.

B. Mā Mausūlah: Mengagungkan Sang Penyempurna

Jika diartikan sebagai mā mausūlah (merujuk pada Dzat yang melakukan tindakan), maknanya adalah: Allah bersumpah dengan jiwa dan Demi Zat yang Menyempurnakannya (yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala).

Penafsiran ini menempatkan keagungan Allah sebagai Pencipta yang melengkapi ciptaan-Nya dengan bentuk dan fitrah yang lurus.

3. Jiwa yang Dilahirkan dalam Fitrah

Ibnu Katsir mengaitkan konsep penyempurnaan jiwa ini dengan kondisi fitrah (kesucian atau bawaan asli) manusia. Jiwa diciptakan dalam keadaan murni dan siap menerima kebenaran. Hadis Nabi Muhammad ﷺ yang sering dikutip dalam konteks ini adalah:

"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah..."

Artinya, jiwa manusia secara bawaan (bukan hasil didikan) cenderung kepada kebaikan dan bertauhid.

Kesimpulan: Persiapan Menuju Pilihan Moral

Sumpah demi jiwa yang sempurna (wa mā sawwāhā) ini adalah pra-kondisi yang krusial. Ayat ini menegaskan bahwa Allah telah membekali manusia dengan instrumen yang sempurna dan lurus.

Penyempurnaan ini segera diikuti oleh Ayat 8, yang menjelaskan potensi ganda yang disematkan dalam jiwa—yaitu kemampuan untuk membedakan antara jalan keburukan (fujūr) dan jalan ketakwaan (taqwā). Sumpah-sumpah alam semesta yang teratur berfungsi sebagai bukti kebenaran Allah, sementara sumpah demi jiwa (nafs) adalah pernyataan bahwa manusia memiliki alat yang memadai untuk menjalankan tugas moralnya di dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fenomena Telur Berembrio: Eksotisme Kuliner atau Makanan Haram?

Antara Eksotisme Kuliner dan Syariat: Bagaimana Islam Memandang Telur Berembrio? Pernahkah Anda mendengar tentang Balut ? Di Filipina atau b...