Minggu, 26 Oktober 2025

Kedurhakaan Kaum Tsamud (Tafsir Asy-Syams Ayat 11)


Tafsir Qur'an Surat Asy-Syams Ayat 11

Bunyi Ayat:

كَذَّبَتْ ثَمُوْدُ بِطَغْوٰىهَآ ۖ

Artinya:

"Kaum Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena kedurhakaannya,"

Penjelasan Tafsir

Ayat ke-11 ini mengawali kisah kaum Tsamud sebagai contoh nyata dari orang-orang yang "mengotori jiwanya" (sebagaimana disebutkan dalam ayat 10). Allah menggunakan kisah ini untuk memberikan ilustrasi konkret tentang konsekuensi dari mendustakan kebenaran dan menuruti hawa nafsu.

Berikut adalah beberapa poin tafsir dari berbagai sumber:

  1. "Kadzdzabat Tsamūdu" (كَذَّبَتْ ثَمُوْدُ):

    • "Kadzdzabat" (كَذَّبَتْ): Berasal dari kata kadzdzaba yang berarti 'mendustakan', 'menganggap dusta', atau 'tidak mempercayai'.

    • "Tsamūdu" (ثَمُوْدُ): Ini adalah nama sebuah kaum kuno yang hidup di wilayah Al-Hijr (sekarang Mada'in Saleh di Arab Saudi), setelah kaum Ad. Mereka adalah kaum yang diberi kekuatan fisik dan kemahiran dalam memahat gunung untuk dijadikan rumah. Allah mengutus Nabi Shaleh AS kepada mereka.

    • Mendustakan Rasul-Nya: Kaum Tsamud mendustakan Nabi Shaleh AS dan mukjizat yang dibawanya. Mukjizat tersebut adalah unta betina (nāqah) yang keluar dari batu, dengan kondisi khusus: unta itu minum air dari sumur pada hari tertentu, dan air itu tidak boleh diganggu pada hari itu.

  2. "bi-taghwāhā" (بِطَغْوٰىهَآ):

    • "bi-" (بِ): Huruf "ba" di sini menunjukkan sebab (karena/disebabkan oleh).

    • "taghwāhā" (طَغْوٰىهَآ): Berasal dari kata thagha (طَغَى) yang berarti 'melampaui batas', 'durhaka', 'membangkang', atau 'berbuat zalim'.

    • Penyebab Kedustaan: Frasa ini menjelaskan mengapa kaum Tsamud mendustakan. Bukan karena mereka tidak melihat kebenaran, tetapi karena mereka melampaui batas dalam kedurhakaan dan kesesatan. Hawa nafsu, kesombongan, dan penolakan terhadap kebenaran telah menguasai jiwa mereka, sehingga mereka tidak lagi mampu menerima petunjuk.

    • Kaitan dengan Ayat 10: Frasa bi-taghwāhā ini memiliki hubungan erat dengan ayat sebelumnya (ayat 10) yang berbunyi wa qad khāba man dassāhā ("sungguh rugi orang yang mengotorinya (jiwa itu)"). Kaum Tsamud adalah contoh konkret bagaimana jiwa yang telah 'dikotori' oleh kedurhakaan (taghwa) akhirnya akan mendustakan kebenaran dan merugi.

Kesimpulan Tafsir

Menurut Tafsir Al-Muyassar (Kementerian Agama Arab Saudi), ayat ini berarti: "Kaum Tsamud mendustakan Rasul mereka karena kedurhakaan dan kesesatan yang mereka lakukan."

Tafsir Jalalain menjelaskan bahwa kaum Tsamud mendustakan nabi mereka, Shaleh, disebabkan oleh perbuatan melampaui batas yang mereka lakukan.

Sedangkan Tafsir Ibnu Katsir menghubungkan ini dengan ayat sebelumnya. Ia menjelaskan bahwa Allah mengisahkan tentang kaum Tsamud yang mendustakan rasul mereka (Nabi Shaleh) dan konsekuensi dari mendustakan tersebut. Mereka melampaui batas dalam kesesatan dan kedurhakaan, sehingga hal itu mendorong mereka untuk mendustakan kebenaran. Ini menjadi contoh nyata bagi mereka yang mengotori jiwanya sehingga akhirnya celaka.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fenomena Telur Berembrio: Eksotisme Kuliner atau Makanan Haram?

Antara Eksotisme Kuliner dan Syariat: Bagaimana Islam Memandang Telur Berembrio? Pernahkah Anda mendengar tentang Balut ? Di Filipina atau b...