Tafsir Ibnu Katsir: Qur'an Surat Asy-Syams Ayat 10
Bunyi Ayat
وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ
(Wa qad khāba man dassāhā)
Artinya: "Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya (jiwa itu)."
Penjelasan Imam Ibnu Katsir
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ke-10 ini merupakan kebalikan (lawan) dari ayat ke-9 (tentang keberuntungan orang yang menyucikan jiwa).
1. Makna "Khāba" (خَابَ)
Kata Khāba berarti 'rugi', 'celaka', 'gagal', dan 'kecewa'. Ini menunjukkan kerugian yang total di dunia dan akhirat, serta kegagalan mencapai tujuan penciptaan.
2. Makna "Dassāhā" (دَسّٰىهَا)
Ini adalah inti dari tafsir ayat ini. Kata dassāhā (mengotorinya) menurut Ibnu Katsir memiliki makna:
Menjerumuskan dan Menyelewengkan:
Makna dasarnya adalah "menjerumuskannya" atau "menyelewengkannya". Maksudnya, orang tersebut menyelewengkan jiwanya dari petunjuk (hidayah) dan ketaatan.
Mengubur Jiwa dalam Maksiat:
Secara harfiah, dassa (دَسَّ) berarti menyembunyikan atau membenamkan sesuatu ke dalam tanah (mengubur). Orang yang 'mengotori jiwa' adalah orang yang membenamkan jiwanya ke dalam perbuatan maksiat dan kehinaan, sehingga potensi kebaikan (takwa) yang ada dalam jiwa itu menjadi terkubur, tidak terlihat, dan tidak berkembang.
Menghinakan Jiwa:
Lawan dari zakkāhā (menyucikan/meninggikan) adalah dassāhā (menghinakan/merendahkan). Orang tersebut menghinakan derajat jiwanya dengan memilih perbuatan dosa dan akhlak yang rendah.
Mengutip Pendapat Ulama Salaf
Imam Ibnu Katsir juga mengutip beberapa pendapat ulama Salaf (terdahulu) untuk memperkuat makna ini:
Qatadah: Berkata, "Maknanya adalah, sungguh rugi orang yang mengotori jiwanya dengan perbuatan durhaka (maksiat)."
Mujahid dan Ikrimah: Berkata, "Maknanya adalah 'orang yang menyesatkannya' (jiwanya)."
Ibnu Zaid: Berkata, "Dia menjadikan jiwanya durhaka."
Kesimpulan Tafsir Ibnu Katsir (Ayat 10)
Menurut Imam Ibnu Katsir, ayat ini menegaskan bahwa kerugian dan kecelakaan yang besar pasti akan menimpa orang yang:
Memilih jalan fujur (kedurhakaan) yang telah diilhamkan Allah (disebut di ayat 8).
Meninggalkan ketaatan kepada Allah.
Mengotori, menghinakan, dan membenamkan jiwanya dalam lumpur kemaksiatan dan dosa.
Akibatnya, jiwa tersebut menjadi kerdil, hina, dan jauh dari petunjuk Allah SWT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar