Pilihan Ganda dalam Jiwa: Tafsir Surat Asy-Syams Ayat 8 Mengenai Ilham Kefasikan dan Ketakwaan
Surat Asy-Syams, setelah membangun tujuh sumpah agung—dari benda-benda kosmik (Matahari hingga Bumi) hingga kesempurnaan jiwa manusia (Ayat 7)—kini tiba pada klimaks dan inti pesannya. Ayat 8 menjelaskan fungsi utama dari jiwa yang telah disempurnakan itu:
(Fa alhamahā fujūrahā wa taqwāhā)
Artinya: "Maka Dia mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya."
Menurut Imam Ibnu Katsir, ayat ini adalah jawaban (jawāb al-qasam) dari ketujuh sumpah sebelumnya. Seluruh keagungan alam semesta disajikan sebagai bukti nyata untuk menguatkan pernyataan sentral ini: bahwa manusia bertanggung jawab atas pilihan moralnya, karena Allah telah melengkapinya dengan kesanggupan memilih.
1. Makna Alhamahā: Penjelasan dan Pemahaman
Kata "أَلْهَمَهَا" (alhamahā) memiliki makna mengilhamkan, menginspirasikan, atau memahamkan secara naluriah.
Ibnu Katsir dan mayoritas mufassir (seperti Ibnu Abbas, Mujahid, dan Qatadah) menafsirkan alhamahā di sini sebagai menjelaskan atau mengenalkan. Artinya, Allah tidak meninggalkan manusia dalam kegelapan buta. Sejak diciptakan dalam keadaan fitrah yang sempurna (sebagaimana Ayat 7), jiwa manusia secara inheren sudah dijelaskan, dipahamkan, dan dibekali dengan kesanggupan untuk membedakan:
Mana yang benar dan mana yang salah.
Mana yang baik (ketaatan) dan mana yang buruk (kemaksiatan).
2. Dua Potensi Dualisme dalam Jiwa: Fujūr dan Taqwā
Ayat ini secara eksplisit menyebut dua jalan yang diperkenalkan kepada jiwa:
A. Fujūr (Kefasikan atau Kejahatan)
Fujūr adalah potensi untuk menyimpang, durhaka, berbuat maksiat, atau melanggar batas-batas yang ditetapkan oleh Allah. Penyebutan Fujūr (kejahatan) di awal bukan berarti Allah mendahulukan kejahatan, melainkan menunjukkan bahwa jiwa memiliki kecenderungan ganda yang harus dikendalikan.
B. Taqwā (Ketakwaan atau Kebaikan)
Taqwā adalah potensi untuk taat, patuh, takut kepada Allah, dan menjaga diri dari hal-hal yang dapat mendatangkan murka-Nya. Inilah jalan keselamatan.
Pemasukan kedua potensi ini ke dalam jiwa menegaskan konsep kebebasan berkehendak (ikhtiyār) dalam Islam. Manusia dibekali akal, fitrah yang suci, dan penjelasan mengenai kedua jalan. Oleh karena itu, hasil akhir perbuatannya adalah murni tanggung jawabnya sendiri.
3. Korelasi dengan Tanggung Jawab Manusia
Dalam pandangan Ibnu Katsir, ayat ini adalah penegasan ilahi bahwa hujjah (bukti) telah ditegakkan atas manusia. Karena manusia telah diberikan akal, penjelasan (melalui ilhām), dan potensi ganda ini, maka mereka sepenuhnya layak menerima balasan atas pilihan mereka.
Ayat ini mirip dengan firman Allah dalam surat lain:
"Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir." (QS. Al-Insan: 3)
4. Implementasi Praktis: Doa Nabi ﷺ
Sebagai penguat, Ibnu Katsir sering mencantumkan doa yang dipanjatkan oleh Rasulullah ﷺ, yang menunjukkan bahwa meskipun potensi taqwā sudah ada, upaya penyucian dan permintaan kepada Allah tetaplah wajib:
"Ya Allah, berikanlah kepada jiwaku ketakwaannya; dan sucikanlah jiwaku. Engkau sebaik-baik yang menyucikannya, Engkau Pemiliknya dan Yang Menguasainya." (HR. Muslim)
Ayat 8 ini membuka pintu menuju Ayat 9 dan 10, yang merupakan kesimpulan mutlak dari seluruh sumpah ini: keberuntungan adalah milik mereka yang menyucikan jiwa, dan kerugian adalah milik mereka yang mengotorinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar