Ayat ke-12 dari Surat Asy-Syams berbunyi :
(Iżimba'aṡa asyqāhā)
Artinya: "ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka,"
Konteks Ayat
Menurut Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini merupakan penjelasan rinci dari ayat sebelumnya (Ayat 11), di mana Allah berfirman: "(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas."
Ayat 12 ini menjelaskan bagaimana puncak dari kedustaan dan tindakan melampaui batas (kedurhakaan) Kaum Tsamud itu terjadi.
1. Identitas "Orang Paling Celaka" (Asyqāhā)
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa frasa "أَشْقَاهَا" (asyqāhā) atau "orang yang paling celaka di antara mereka" merujuk kepada satu individu spesifik dari kabilah Tsamud.
Nama: Orang tersebut adalah Qudar ibnu Salif (kadang disebut Qudar bin Salif).
Tindakannya: Dia adalah orang yang "bangkit" (inba'aṡa)—artinya bersegera, maju, atau menawarkan diri—untuk menyembelih unta betina mukjizat Nabi Saleh AS.
2. Status Sosial Pelaku
Ibnu Katsir menekankan bahwa Qudar ibnu Salif bukanlah orang rendahan atau penjahat biasa di mata kaumnya. Sebaliknya, dia adalah:
Seorang pemimpin yang ditaati di antara mereka.
Seorang yang perkasa, terhormat, dan berasal dari keturunan bangsawan di kalangan Kaum Tsamud.
Fakta bahwa yang bangkit adalah seorang pemimpin terpandang menunjukkan bahwa kedurhakaan ini bukanlah tindakan kriminal biasa yang dilakukan sembunyi-sembunyi. Itu adalah sebuah pembangkangan terbuka yang disetujui dan diwakili oleh elite kaum tersebut.
3. Dosa Kolektif (Dosa Satu Orang, Ditanggung Bersama)
Meskipun Qudar bin Salif adalah eksekutor (yang menyembelih unta), tindakannya disetujui dan didukung oleh seluruh Kaum Tsamud.
Ibnu Katsir menguatkan ini dengan merujuk pada firman Allah di surat lain, serta ayat 14 dalam surat ini sendiri:
"Lalu mereka mendustakannya (Saleh) dan mereka menyembelihnya (unta itu)..." (QS. Asy-Syams: 14)
Allah menggunakan kata ganti "mereka" (jamak), bukan "dia" (tunggal), ketika menyebut tindakan menyembelih. Menurut Ibnu Katsir, ini karena Qudar ibnu Salif bangkit atas nama kaumnya dan dengan persetujuan (ridha) dari mereka semua. Ketika sebuah kemungkaran besar dilakukan secara terbuka oleh seorang pemimpin dan disetujui oleh seluruh kaum, maka seluruh kaum itu menanggung dosa kolektifnya.
Kesimpulan
Menurut Ibnu Katsir, ayat 12 adalah momen krusial ketika kedurhakaan Kaum Tsamud mencapai puncaknya, yang diwakili oleh bangkitnya pemimpin mereka yang paling celaka—namun paling dihormati—untuk menghancurkan tanda kekuasaan Allah (unta betina).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar