📜 Pengawasan Ilahi yang Mutlak: Tafsir Surah Al-Balad Ayat 7
Surah Al-Balad berlanjut dengan kritik tajam terhadap sifat manusia yang sombong, terutama yang terperdaya oleh kekayaan. Setelah ayat 6 mengungkap keangkuhan seseorang yang pamer harta ($Yaqūlu ahlaktu mālal lubadā$), ayat 7 menyajikan pertanyaan retoris yang menghancurkan ilusi kebebasan dan kekebalan mereka.
Ayat 7 berbunyi: أَيَحْسَبُ أَنْ لَمْ يَرَهُ أَحَدٌ (Ayaḥsabu allam yarahu aḥad), yang berarti: "Apakah dia menyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya?"
1. Pertanyaan Retoris dan Otoritas Ilahi
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, pertanyaan ini bukanlah pertanyaan untuk mencari jawaban, melainkan teguran keras (istifhām inkārī) yang bermaksud menegaskan sesuatu yang mutlak: Pengawasan Allah tidak pernah luput.
Meskipun lafaznya menggunakan kata umum "seorang pun" (aḥad), Ibnu Katsir dan ulama salaf seperti Mujahid menafsirkan bahwa aḥad secara spesifik merujuk kepada Allah $Subhana wa Ta'ala$.
Pesan Inti: Allah bertanya, "Apakah orang yang angkuh ini, yang membanggakan pengeluaran hartanya, benar-benar berpikir bahwa ia luput dari pandangan Kami, dari pengawasan Sang Pencipta segala sesuatu?"
Bantahan atas Riya': Ayat ini langsung mematahkan niat riya' (pamer) di ayat 6. Seseorang mungkin berhasil mendapat pujian dari manusia, tetapi ia tidak akan pernah lepas dari pandangan Allah. Semua tindakannya, baik yang tersembunyi maupun yang terbuka, dilihat, dicatat, dan akan diperhitungkan.
2. Peringatan tentang Hisab dan Konsekuensi Akhirat
Ayat 7 adalah peringatan fundamental tentang Muraqabatullah (merasa diawasi oleh Allah).
Jika Allah $Subhana wa Ta'ala$ Maha Melihat, maka logikanya pasti akan ada Hisab (pertanggungjawaban). Harta yang dibanggakan dan dikeluarkan dengan niat buruk akan menjadi saksi yang memberatkan. Ayat ini memberikan ancaman bahwa kesombongan dan pamer di dunia akan berujung pada penyesalan total di Hari Akhir.
3. Bukti Kekuasaan Melalui Penciptaan
Ibnu Katsir menyoroti hubungan erat ayat 7 dengan ayat-ayat setelahnya (ayat 8, 9, dan 10), yang dimulai dengan penyebutan nikmat penciptaan:
"Bukankah Kami telah menjadikan untuknya dua buah mata? Dan lidah dan dua buah bibir?"
Dengan tegas Allah mengaitkan pengawasan-Nya (ayat 7) dengan bukti kekuasaan-Nya dalam penciptaan (ayat 8-10). Allah seolah berkata: "Bagaimana mungkin Aku, Dzat yang begitu Kuasa menciptakan organ penglihatan (mata) yang kau gunakan, lidah yang kau gunakan untuk berbicara sombong, dan bibir untuk bergerak, kemudian Aku tidak mampu atau lalai untuk melihat apa yang kau lakukan? Mustahil!"
Keterkaitan ini mengajarkan bahwa kesombongan manusia adalah kekonyolan. Semua yang ia miliki dan yang ia gunakan untuk berbuat (baik atau buruk) adalah anugerah Allah, dan Pemberi anugerah itu tidak pernah berhenti mengawasi penerimanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar