Ayat 8 berbunyi:
أَلَمْ نَجْعَلْ لَهُ عَيْنَيْنِ
(Alam naj'al lahu 'aynayn)
"Bukankah Kami telah menjadikan untuknya dua buah mata?"
1. Inti Ayat: Pemberian Nikmat dan Bukti Kekuasaan
Ayat 8 ini, yang dilanjutkan dengan ayat 9 (lidah dan dua bibir), mengandung pertanyaan retoris (istifhām taqrīrī) yang bermaksud menetapkan atau mengakui suatu fakta yang tak terbantahkan.
A. Nikmat Mata sebagai Bukti Kasih Sayang
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah Subhana wa Ta'ala mengingatkan manusia akan nikmat yang sangat besar, yaitu dua buah mata, yang "يُبصِرُ بِهِما" (dengan keduanya ia melihat).
Mata adalah indra fundamental yang memungkinkan manusia:
Melihat keindahan, warna-warni, dan keagungan ciptaan Allah.
Melaksanakan urusan dunia (bekerja, mencari nafkah) yang terkait dengan kabad (susah payah) di ayat 4.
Membedakan antara yang baik dan buruk, yang akan dijelaskan lebih lanjut di ayat 10.
B. Mata sebagai Pertanyaan dan Teguran
Ayat ini berfungsi sebagai bukti kuat terhadap kesombongan manusia yang dibahas di ayat 5-7. Allah seolah berkata:
"Wahai manusia yang sombong dan mengira tidak ada yang melihat perbuatanmu (ayat 7)! Bukankah Aku, Tuhanmu, yang memberimu dua mata untuk melihat? Bagaimana mungkin engkau berpikir bahwa Aku tidak melihatmu, padahal Aku yang menciptakan alat penglihatanmu, yang tanpanya engkau tidak bisa berbuat apa-apa?"
Dengan kata lain, pemberian nikmat mata adalah pengingat bahwa Pemberi nikmat pasti memiliki kuasa penuh atas penerima nikmat, termasuk kuasa untuk mengawasi dan menghisabnya.
2. Hubungan dengan Ayat Sebelumnya dan Selanjutnya
A. Kaitan dengan Ayat 7 (Pengawasan)
Ayat 8 adalah bukti nyata bahwa Allah Maha Melihat. Manusia sombong di ayat 7 merasa luput dari pengawasan. Allah membalasnya dengan menunjukkan bahwa organ yang digunakan manusia untuk beraktivitas (mata) adalah ciptaan-Nya. Mustahil Sang Pencipta organ penglihatan tidak dapat melihat apa yang dilakukan oleh makhluk-Nya.
B. Kaitan dengan Ayat 9 dan 10 (Alat Bicara dan Petunjuk)
Ayat 8, 9, dan 10 membentuk satu kesatuan logis:
Mata (Ayat 8): Alat untuk melihat dan mengamati.
Lidah dan Dua Bibir (Ayat 9): Alat untuk berbicara, mengungkapkan isi hati, membolak-balik makanan, dan memperindah rupa.
Dua Jalan (Ayat 10): Petunjuk untuk membedakan jalan kebaikan (al-najdayn).
Allah memberikan manusia semua peralatan dasar (penglihatan dan komunikasi) plus petunjuk (pilihan antara baik dan buruk). Oleh karena itu, manusia tidak memiliki alasan untuk berbuat maksiat, sombong, dan mengira ia tidak diawasi. Nikmat-nikmat ini seharusnya digunakan untuk ketaatan, bukan kesombongan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar