Minggu, 07 Desember 2025

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Balad Ayat 9 tentang Nikmat Lisan


Tafsir Surah Al-Balad ayat 9 merupakan kelanjutan dari rangkaian pertanyaan retoris di ayat 8, yang bertujuan untuk menyadarkan manusia akan nikmat penciptaan yang diberikan Allah Subhana wa Ta'ala, sekaligus membantah kesombongan mereka.

Ayat 9 berbunyi:

وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ

(Wa lisānaw wa shafatayn)

"Dan lidah dan dua buah bibir?"


1. Inti Ayat: Anugerah Alat Komunikasi

Setelah mengingatkan manusia akan nikmat penglihatan (dua mata) di ayat 8, Allah Subhana wa Ta'ala dalam ayat 9 melanjutkan dengan menyebutkan anugerah luar biasa lainnya, yaitu: lidah (lisān) dan dua buah bibir (shafatayn).

A. Nikmat Lidah (Lisān)

  • Fungsi Utama (Menurut Tafsir Ibnu Katsir): Lidah adalah organ utama untuk berbicara (al-kalām) dan menyampaikan maksud hati (al-tabyīn). Ia memungkinkan manusia untuk berkomunikasi, belajar, dan berinteraksi sosial, yang membedakannya dari makhluk lain.

  • Fungsi Fisiologis: Lidah juga memiliki peran vital dalam mengecap rasa (al-dzawq) dan membantu proses menelan (al-iblā') serta membolak-balik makanan di dalam mulut, yang merupakan nikmat kesehatan yang sering terlupakan.

B. Nikmat Dua Buah Bibir (Shafatayn)

  • Fungsi Utama (Menurut Tafsir Ibnu Katsir): Bibir memiliki fungsi estetika dan fungsional yang sangat penting:

    • Keindahan dan Perlindungan: Bibir memperindah wajah dan berfungsi sebagai penutup dan pelindung gigi dan gusi.

    • Artikulasi Bicara: Bersama lidah, bibir sangat krusial dalam membentuk suara dan huruf agar ucapan menjadi jelas dan artikulatif. Tanpa bibir, ucapan akan menjadi kacau dan sulit dipahami.

  • Kesatuan Komunikasi: Lidah dan bibir bekerja sama untuk menghasilkan suara yang teratur dan bermakna, sebuah sistem komunikasi yang sangat kompleks dan sempurna.

2. Teguran terhadap Kesombongan

Penyebutan nikmat-nikmat ini (mata, lidah, bibir) adalah bantahan logis terhadap manusia yang sombong, yang mengira tidak ada yang melihatnya (ayat 7) dan membanggakan hartanya (ayat 6).

Allah Subhana wa Ta'ala seolah berkata:

"Wahai manusia yang menggunakan lidahmu untuk menyombongkan diri dan mengumpat (Ayat 6)! Bukankah Aku yang memberimu lidah itu? Bagaimana mungkin engkau berpikir Aku tidak mendengar perkataanmu, padahal Aku yang menciptakan alat bicaramu, yang tanpanya engkau hanya akan mengeluarkan suara yang tidak jelas?"

Nikmat berbicara seharusnya digunakan untuk ketaatan, dzikir, dan menyampaikan kebenaran, bukan untuk kesombongan atau kebatilan.

3. Hubungan dengan Ayat Selanjutnya (Ayat 10)

Ayat 8 dan 9 menetapkan bahwa Allah telah memberi manusia semua peralatan dasar (untuk melihat dan berkomunikasi). Ayat 10 kemudian menyempurnakan dengan menyatakan bahwa manusia juga diberi petunjuk untuk menggunakan peralatan tersebut:

وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ

(Wa hadaināhun-najdayn)

"Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebaikan dan keburukan)."

Dengan diberikannya peralatan (mata, lidah, bibir) dan petunjuk untuk memilih jalan yang benar, manusia sepenuhnya bertanggung jawab atas semua tindakannya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fenomena Telur Berembrio: Eksotisme Kuliner atau Makanan Haram?

Antara Eksotisme Kuliner dan Syariat: Bagaimana Islam Memandang Telur Berembrio? Pernahkah Anda mendengar tentang Balut ? Di Filipina atau b...