Sabtu, 17 Januari 2026

Abu Marwan bin Zuhr: Ilmuwan Muslim Penemu Parasit & Bapak Bedah Eksperimental



Kisah Abu Marwan bin Zuhr: Sang Empiris dari Andalusia

1. Latar Belakang Keluarga Dokter

Abu Marwan Abdul Malik bin Abi'l-Ala bin Zuhr lahir di Sevilla (sekarang Spanyol) sekitar tahun 1094 M, di masa kekuasaan Dinasti Murabithun.

Ia tidak lahir di keluarga sembarangan. Keluarga "Banu Zuhr" adalah dinasti dokter yang sangat dihormati di Andalusia selama enam generasi. Ayah dan kakeknya adalah dokter istana. Tumbuh di lingkungan seperti ini, Abu Marwan muda sudah akrab dengan dunia medis sejak dini, mempelajari seni penyembuhan langsung dari para ahli di keluarganya.

2. Memisahkan Medis dari Filsafat (Pendekatan Empiris)

Di masa itu, kedokteran seringkali bercampur aduk dengan filsafat dan spekulasi metafisika. Banyak dokter hanya mengikuti teori-teori kuno Galen dan Hippocrates tanpa mempertanyakannya.

Abu Marwan bin Zuhr tampil beda. Ia adalah seorang empiris sejati. Baginya, kedokteran adalah ilmu praktis yang harus didasarkan pada:

  • Pengamatan klinis yang cermat terhadap pasien.

  • Eksperimen.

  • Bukti nyata, bukan sekadar teori di atas kertas.

Ia berani mengkritik karya-karya pendahulunya, termasuk Ibnu Sina, jika temuan di lapangan berbeda dengan teori yang ada. Ia bersikeras bahwa seorang dokter harus fokus pada tubuh dan penyakit, bukan tersesat dalam perdebatan filosofis yang abstrak.

3. Penemuan Revolusioner: Parasit Penyebab Penyakit

Salah satu kontribusi terbesarnya yang mengubah dunia medis adalah penemuannya tentang penyebab penyakit kudis (scabies).

Sebelumnya, penyakit sering dianggap sebagai ketidakseimbangan cairan tubuh (humor). Namun, melalui pengamatan mikroskopis yang teliti (menggunakan alat pembesar sederhana di masanya), Ibnu Zuhr berhasil mengidentifikasi tungau kecil (parasit) sebagai penyebab penyakit kulit tersebut.

Ini adalah momen monumental: untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang dokter membuktikan bahwa organisme hidup mikroskopis dari luar tubuh bisa menyebabkan penyakit pada manusia. Ini adalah cikal bakal ilmu mikrobiologi dan parasitologi.

4. Bapak Bedah Eksperimental (Kisah Trakeotomi)

Ibnu Zuhr juga seorang ahli bedah yang berani. Ia menyadari pentingnya anatomi dan pelatihan bedah sebelum menangani manusia.

Salah satu eksperimennya yang paling terkenal adalah prosedur trakeotomi (membuat lubang di leher untuk jalan napas). Pada masa itu, prosedur ini dianggap terlalu berbahaya dan mustahil dilakukan pada manusia.

Untuk membuktikannya, Ibnu Zuhr melakukan eksperimen pada seekor kambing. Ia membedah leher kambing tersebut, membuat lubang pada trakeanya, dan kemudian menjahitnya kembali. Kambing tersebut selamat dan pulih sepenuhnya. Eksperimen ini membuktikan bahwa prosedur tersebut aman dan bisa dilakukan untuk menyelamatkan nyawa manusia yang tersedak atau gagal napas.

5. Persahabatan dengan Ibnu Rusyd dan Karya Tulis

Ibnu Zuhr adalah sahabat dekat dari filsuf dan hakim agung, Ibnu Rusyd (Averroes). Keduanya saling menghormati keahlian masing-masing. Ibnu Rusyd bahkan memuji Ibnu Zuhr sebagai dokter terhebat sejak masa Galen.

Karya tulis terbesar Ibnu Zuhr adalah "Kitab al-Taysir fi al-Mudawat wa al-Tadbir" (Buku Penyederhanaan Mengenai Terapi dan Diet). Buku ini ditulis atas permintaan Ibnu Rusyd sebagai panduan praktis pengobatan. Al-Taysir kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Ibrani, menjadi buku teks standar di universitas-universitas Eropa selama berabad-abad, mempengaruhi perkembangan kedokteran Barat di masa Renaisans.

Akhir Hayat

Abu Marwan bin Zuhr wafat di Sevilla pada tahun 1162 M, meninggalkan warisan sebagai dokter yang mengutamakan bukti nyata di atas teori buta, dan membuka jalan bagi metode ilmiah modern dalam kedokteran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fenomena Telur Berembrio: Eksotisme Kuliner atau Makanan Haram?

Antara Eksotisme Kuliner dan Syariat: Bagaimana Islam Memandang Telur Berembrio? Pernahkah Anda mendengar tentang Balut ? Di Filipina atau b...