Sabtu, 07 Juni 2025

Al-Adiyat Ayat 4: Mengungkap Makna Debu yang Diterbangkan Kuda Perang


فَأَثَرْنَ بِهِۦ نَقْعًا

Artinya: "lalu menerbangkan debu dengan (derapan) kaki kuda itu,"


Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-'Adiyat Ayat 4

Ayat ini masih melanjutkan rangkaian sumpah Allah Swt. pada kuda-kuda perang yang sedang beraksi, kali ini fokus pada dampak fisik dari kecepatan dan kekuatan derap kaki mereka.

1. Makna "Fa-atharnā bihi" (فَأَثَرْنَ بِهِۦ)

Kata "Fa-atharnā" berasal dari kata dasar atsara-yu'tsiru yang berarti mengangkat, membangkitkan, atau menerbangkan. Kata ini mengacu pada tindakan kuda-kuda tersebut. Sedangkan "bihi" (dengannya/olehnya) merujuk kembali pada "Al-Mughirat" (kuda-kuda yang menyerang) yang disebutkan di ayat sebelumnya, dan secara implisit juga merujuk pada kecepatan dan kekuatan derap kaki kuda.

2. Makna "Naq'ā" (نَقْعًا)

"Naq'ā" berarti debu atau gumpalan debu yang berterbangan. Ini adalah debu yang terangkat dan beterbangan ke udara akibat derapan kaki kuda yang berlari sangat kencang dan berat di atas permukaan tanah. Ketika puluhan atau ratusan kuda berlari serentak dalam serangan, debu yang dihasilkan bisa sangat banyak hingga membentuk gumpalan atau awan debu yang menyelimuti area tersebut.

Jadi, makna lengkap ayat ini adalah: "Lalu (kuda-kuda perang itu) menerbangkan debu (ke udara) dengan (derapan) kakinya."


Hubungan dengan Ayat-ayat Sebelumnya

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini melengkapi gambaran dramatis tentang kuda-kuda perang yang digambarkan pada ayat-ayat sebelumnya:

  • Ayat 1 (Al-'Adiyat ḍabḥā): Suara terengah-engah dari kuda yang sangat cepat.
  • Ayat 2 (Al-Mooriyat qadhā): Percikan api dari kuku kuda yang beradu dengan batu, menunjukkan kekuatan pukulan.
  • Ayat 3 (Al-Mughirat shubhā): Aksi penyerangan mendadak di waktu fajar.
  • Ayat 4 (Fa-atharnā bihi naq'ā): Debu yang beterbangan akibat derapan kaki kuda yang dahsyat saat menyerang. Ini menunjukkan intensitas dan kecepatan serangan tersebut. Debu yang mengepul tinggi ini juga bisa menjadi tanda visual adanya serangan besar.

Sumpah-sumpah ini adalah cara Allah Swt. untuk menarik perhatian manusia pada kekuasaan-Nya yang menciptakan makhluk (kuda) dengan kekuatan dan ketangguhan luar biasa. Kuda-kuda ini, yang secara implisit digunakan dalam jihad (perjuangan di jalan Allah), menunjukkan dedikasi dan ketaatan yang kontras dengan sifat manusia yang akan dijelaskan dalam ayat-ayat berikutnya, yaitu kecenderungan untuk kufur nikmat, kikir, dan mencintai dunia secara berlebihan. Awan debu yang beterbangan juga bisa melambangkan kekacauan dan intensitas dari pertempuran itu sendiri, yang menjadi latar belakang perenungan tentang sifat manusia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fenomena Telur Berembrio: Eksotisme Kuliner atau Makanan Haram?

Antara Eksotisme Kuliner dan Syariat: Bagaimana Islam Memandang Telur Berembrio? Pernahkah Anda mendengar tentang Balut ? Di Filipina atau b...