Kamis, 28 Agustus 2025

Tafsir Al-Quran Surat Al-Insyirah Ayat 8: Hanya kepada Allah Kita Berharap


Berdasarkan penafsiran Ibnu Katsir, berikut adalah tafsir dari Surat Al-Insyirah (Asy-Syarh) ayat 8:


Tafsir Surat Al-Insyirah Ayat 8

Ayat 8: وَاِلٰىرَبِّكَفَارْغَبْ (Wa ilā rabbika farghab)

Artinya: "Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya engkau berharap."

Ayat ini adalah penutup dari Surat Al-Insyirah dan menjadi penyempurna makna dari ayat-ayat sebelumnya. Jika ayat ketujuh (Fa idhā faraghta fanṣab) memerintahkan untuk terus bekerja keras dan berikhtiar setelah menyelesaikan suatu urusan, maka ayat kedelapan ini menjelaskan tujuan akhir dari seluruh ikhtiar tersebut.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa makna farghab (berharap) di sini adalah mengarahkan seluruh harapan, niat, dan permintaan hanya kepada Allah SWT. Dengan kata lain, semua kesungguhan dan kerja keras yang kita lakukan harus bertujuan untuk meraih ridha Allah, bukan untuk mencari pujian, kekayaan, atau manfaat dari manusia.

Ayat ini menegaskan kembali prinsip tauhid, yaitu mengesakan Allah. Di tengah segala kesulitan dan kemudahan, dan setelah melakukan segala upaya dan ibadah, seorang hamba harus menyandarkan harapan dan permohonan terakhirnya hanya kepada Rabbnya.

Hubungan dengan Ayat Sebelumnya:

  • Ayat 7 memerintahkan tindakan (fa anṣab - bekerja keras).

  • Ayat 8 meluruskan niat (wa ilā rabbika farghab - hanya kepada Tuhanmu berharap).

Kesimpulannya, tafsir Ibnu Katsir untuk ayat terakhir ini adalah sebuah arahan yang jelas: setiap langkah, setiap usaha, dan setiap ibadah yang kita lakukan haruslah berorientasi hanya kepada Allah. Ayat ini menjadi pengingat bahwa tujuan hidup seorang mukmin adalah mencari wajah Allah, dan semua harapan harus diletakkan pada-Nya, karena hanya Dialah sumber segala pertolongan dan kemudahan.

Rabu, 27 Agustus 2025

Tafsir Al-Quran Surat Al-Insyirah Ayat 7: Perintah Bekerja Keras


Tafsir Surat Al-Insyirah Ayat 7

Ayat 7: فَإِذَافَرَغْتَفَانْصَبْ (Fa idhā faraghta fanṣab)

Artinya: "Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)."

Setelah Allah SWT memberikan tiga nikmat besar kepada Nabi Muhammad ﷺ (kelapangan dada, diringankannya beban, dan ditinggikannya nama), serta janji universal tentang kemudahan, ayat ini memberikan perintah langsung kepada beliau dan seluruh umatnya.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini berisi instruksi untuk tidak pernah berdiam diri atau bermalas-malasan. Ketika seseorang telah menyelesaikan satu tugas atau urusan, ia harus segera beralih kepada urusan berikutnya.

Terdapat dua penafsiran utama dari ayat ini menurut ulama tafsir yang dinukil oleh Ibnu Katsir:

  1. Dari Tugas Duniawi ke Ibadah: Jika engkau telah selesai dari urusan dakwah, jihad, atau urusan dunia lainnya, maka bergegaslah untuk melakukan ibadah kepada Allah dengan penuh kesungguhan. Sebagian ulama menafsirkan fanṣab (bekerja keras) sebagai shalat atau berdiri dalam shalat malam, sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan.

  2. Dari Satu Ibadah ke Ibadah Lain: Jika engkau telah selesai dari satu ibadah (seperti shalat fardu), maka segera bangkitlah dan bersungguh-sungguh untuk ibadah yang lain (seperti shalat sunah, dzikir, atau berdoa). Ayat ini menekankan pentingnya kontinuitas dalam beribadah dan tidak menyia-nyiakan waktu.

Secara ringkas, tafsir Ibnu Katsir menegaskan bahwa ayat ini adalah perintah untuk terus-menerus berikhtiar dan beribadah. Tidak ada waktu luang bagi seorang mukmin. Setelah menyelesaikan satu tugas, segera hadapi tugas berikutnya, dan setelah selesai dari urusan dunia, segera kembali beribadah kepada Allah.

Selasa, 26 Agustus 2025

Satu Kesulitan, Dua Kemudahan: Tafsir Surat Asy-Syarh Ayat 6



Tafsir Surat Al-Insyirah Ayat 6

Ayat 6: اِنَّمَعَالْعُسْرِيُسْرًاۗ (Inna ma'al 'usri yusrā)

Artinya: "Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan."

Ayat keenam ini merupakan pengulangan dari ayat kelima, dengan tujuan untuk memberikan penegasan dan penguatan makna. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa pengulangan ini bukan sekadar redundansi, melainkan sebuah cara untuk memberikan penekanan yang luar biasa pada janji Allah.

Ibnu Katsir menukil pendapat para ulama tafsir, di antaranya Ibnu Mas'ud dan Ibnu Juraij, yang menyatakan bahwa ayat ini adalah penegasan bahwa satu kesulitan tidak akan pernah bisa mengalahkan dua kemudahan. Penjelasan ini didasarkan pada kaidah bahasa Arab:

  • Kata "al-'usr" (kesulitan) disebutkan dua kali dengan menggunakan kata sandang alif lam (al-), yang menunjukkan bahwa kedua kata "al-'usr" merujuk pada satu hal yang sama, yaitu satu kesulitan.

  • Sementara itu, kata "yusr" (kemudahan) disebutkan dua kali tanpa kata sandang alif lam, yang menunjukkan bahwa ia merujuk pada dua hal yang berbeda, yaitu dua kemudahan.

Dengan demikian, makna ayat ini menjadi: Satu kesulitan, dua kemudahan. Hal ini memberikan keyakinan yang luar biasa bahwa kemudahan yang diberikan oleh Allah jauh lebih besar dari kesulitan yang dihadapi.

Secara keseluruhan, tafsir Ibnu Katsir menekankan bahwa pengulangan ayat ini adalah untuk menguatkan hati Nabi Muhammad ﷺ dan seluruh umatnya, bahwa janji Allah tentang kemudahan adalah janji yang pasti, tak terbantahkan, dan tidak akan pernah diingkari. Ini adalah sumber kekuatan dan harapan yang tak terbatas bagi setiap mukmin yang sedang diuji.

Sabtu, 23 Agustus 2025

Tafsir Al-Quran Surat Al-Insyirah Ayat 5: "Sesungguhnya Bersama Kesulitan Terdapat Kemudahan"



Tafsir Surat Al-Insyirah Ayat 5

Ayat 5: فَإِنَّمَعَالْعُسْرِيُسْرًا (Fa inna ma'al 'usri yusrā)

Artinya: "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan."

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini adalah puncak dari surat ini. Setelah menyebutkan tiga nikmat yang telah diberikan kepada Nabi Muhammad ﷺ (melapangkan dada, meringankan beban, dan meninggikan nama), Allah kemudian memberikan sebuah janji yang sangat agung dan universal.

Janji ini ditujukan tidak hanya untuk Nabi ﷺ, tetapi juga untuk seluruh umatnya. Ungkapan "fa inna ma'al 'usri yusrā" menegaskan bahwa kemudahan itu datang bersama dengan kesulitan, bukan setelah kesulitan berlalu. Ini menunjukkan bahwa kemudahan itu sudah ada di dalam kesulitan itu sendiri, bahkan di saat yang paling sulit, pertolongan dan kemudahan dari Allah sudah mulai datang.

Ibnu Katsir mengutip sebuah hadis riwayat Ibnu Majah dari Hasan Al-Basri: "Tatkala ayat ini turun, Rasulullah SAW bersabda: 'Bergembiralah! Telah datang kepada kalian kemudahan.' "

Janji ini adalah inti dari surat ini. Kata "al-'usr" (kesulitan) menggunakan kata sandang alif lam (al-), yang menunjukkan makna tertentu, yaitu satu kesulitan. Sementara kata "yusr" (kemudahan) tidak menggunakan alif lam, yang berarti maknanya umum dan tidak terbatas. Dengan demikian, jika satu kesulitan datang, maka kemudahan yang akan datang bisa lebih dari satu.


Janji yang Sangat Kuat:

Ayat ini sering kali digunakan sebagai penenang bagi orang-orang yang sedang menghadapi cobaan berat. Ia memberikan keyakinan bahwa kesulitan hanyalah sementara dan tidak akan abadi. Allah telah menjamin bahwa di balik setiap kesulitan, pasti ada kemudahan.

Secara keseluruhan, tafsir Ibnu Katsir menekankan bahwa ayat ini adalah janji pasti dari Allah yang memberikan harapan dan kekuatan. Ayat ini menegaskan bahwa pertolongan Allah sangat dekat, dan kemudahan itu tidak akan pernah terpisah dari kesulitan.

Fenomena Telur Berembrio: Eksotisme Kuliner atau Makanan Haram?

Antara Eksotisme Kuliner dan Syariat: Bagaimana Islam Memandang Telur Berembrio? Pernahkah Anda mendengar tentang Balut ? Di Filipina atau b...