Dalam Tafsir Ibnu Katsir, Surat Al-Lail ayat 5 dijelaskan sebagai berikut:
Ayat:
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَىٰ
(Fa ammā man a'ṭā wattaqā)
Artinya: "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa."
Tafsir Ibnu Katsir:
Ayat ini adalah bagian dari serangkaian ayat yang menjelaskan perbedaan antara dua jenis manusia, yaitu mereka yang berbuat baik dan mereka yang berbuat buruk. Ini merupakan rincian dari ayat sebelumnya (ayat 4) yang menyatakan bahwa "sesungguhnya usaha kamu memang beraneka macam."
Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan makna dari ayat 5 ini:
"Memberikan (hartanya di jalan Allah)": Ibnu Katsir menafsirkan a'ṭā (memberikan) di sini sebagai mengeluarkan harta di jalan yang diperintahkan oleh Allah. Ini mencakup sedekah, infak, zakat, dan segala bentuk pemberian yang tulus untuk mencari rida Allah SWT.
"Dan bertakwa": Kata wattaqā (bertakwa) di sini diartikan sebagai takut kepada Allah dalam segala urusannya. Ini berarti ia melakukan segala perbuatan baiknya, termasuk memberi harta, dengan didasari rasa takut dan ketaatan kepada Allah, bukan karena riya' atau ingin dipuji.
Ayat 5 ini adalah awal dari tiga karakteristik orang yang akan dimudahkan jalannya menuju kebaikan, yang akan dijelaskan pada ayat-ayat selanjutnya (ayat 6 dan 7), yaitu:
Memberi (bersedekah) di jalan Allah.
Bertakwa.
Membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga).
Ibnu Katsir juga mengaitkan ayat ini dengan hadis-hadis Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan bahwa setiap orang dimudahkan untuk mengerjakan apa yang telah diciptakan untuknya. Artinya, orang yang beriman dan bertakwa akan dimudahkan oleh Allah untuk melakukan perbuatan baik, sementara orang yang celaka akan dimudahkan untuk melakukan perbuatan buruk.
Secara ringkas, Tafsir Ibnu Katsir menekankan bahwa ayat 5 ini berbicara tentang karakteristik orang yang beriman, yang amal perbuatannya didasari oleh dua hal:
Amal zahir (lahiriah): Yaitu memberikan harta di jalan Allah.
Amal batin (spiritual): Yaitu ketakwaan, yang menjadi landasan utama dari semua amal perbuatannya.
Gabungan kedua karakteristik ini menjadi kunci untuk mendapatkan "kemudahan" dari Allah SWT, sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat-ayat berikutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar