Sabtu, 20 September 2025

Al-Lail Ayat 6: Motivasi Untuk Selalu Beramal Saleh


Dalam Tafsir Ibnu Katsir, Surat Al-Lail ayat 6 dijelaskan sebagai kelanjutan dari karakteristik orang-orang yang bertakwa.

Ayat:

وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ

(Wa ṣaddaqa bil-ḥusnā)

Artinya: "Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)."

Tafsir Ibnu Katsir:

Ayat ini merupakan karakteristik ketiga dari orang-orang yang akan dimudahkan jalannya menuju kebahagiaan. Ayat ini datang setelah ayat 5 yang menyebutkan "memberikan (harta) dan bertakwa."

Menurut Ibnu Katsir, al-husnā (yang terbaik) memiliki beberapa penafsiran dari para ulama salaf, yang semuanya bermuara pada makna keimanan dan keyakinan akan balasan dari Allah SWT:

  1. Iman kepada Lā ilāha illallāh: Sebagian ulama menafsirkan al-husnā sebagai kalimat tauhid, yaitu "Tidak ada tuhan selain Allah." Artinya, orang tersebut membenarkan dan meyakini keesaan Allah serta segala konsekuensinya.

  2. Balasan yang baik (pahala) di akhirat: Penafsiran lain menyebutkan bahwa al-husnā adalah balasan terbaik yang Allah janjikan, yaitu surga. Ini berarti orang tersebut meyakini sepenuhnya bahwa setiap amal kebaikan yang ia lakukan akan dibalas dengan pahala dan ganjaran yang besar dari Allah SWT.

  3. Pengganti (yang lebih baik) dari Allah: Ada juga penafsiran bahwa al-husnā adalah "pengganti." Ini mengacu pada keyakinan bahwa setiap harta yang diinfakkan di jalan Allah tidak akan sia-sia, melainkan akan diganti dengan yang lebih baik, baik di dunia maupun di akhirat.

Secara keseluruhan, Tafsir Ibnu Katsir menekankan bahwa "membenarkan adanya pahala yang terbaik" adalah pilar penting dalam beriman. Ini adalah keyakinan yang menguatkan seseorang untuk terus beramal saleh, memberikan harta, dan bertakwa. Mereka melakukan kebaikan bukan karena paksaan, tetapi karena yakin dan berharap penuh akan balasan yang sempurna dari Allah SWT. Hal ini melengkapi karakteristik yang disebutkan pada ayat sebelumnya, yaitu amal perbuatan yang lahir dari keyakinan yang kuat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fenomena Telur Berembrio: Eksotisme Kuliner atau Makanan Haram?

Antara Eksotisme Kuliner dan Syariat: Bagaimana Islam Memandang Telur Berembrio? Pernahkah Anda mendengar tentang Balut ? Di Filipina atau b...