Rabu, 24 September 2025

Al-Lail Ayat 9: Mengingkari Kebaradaan Surga, Sifat Orang yang Celaka


Surat Al-Lail ayat 9 adalah kelanjutan dari karakteristik orang yang celaka, yang merupakan kebalikan dari orang yang bertakwa.

Ayat:

وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰ

(Wa każżaba bil-ḥusnā)

Artinya: "Dan mendustakan pahala yang terbaik (surga)."


Tafsir Ibnu Katsir

Ayat ini merupakan karakteristik ketiga dari orang yang celaka, dan merupakan kebalikan langsung dari ayat 6 yang membahas tentang "membenarkan pahala terbaik."

Menurut Ibnu Katsir, makna "mendustakan pahala yang terbaik" (wa każżaba bil-ḥusnā) adalah:

  • Tidak Percaya Adanya Balasan Akhirat: Orang ini mendustakan janji-janji Allah SWT. Mereka tidak percaya bahwa perbuatan baik akan dibalas dengan pahala dan perbuatan buruk akan dibalas dengan siksa. Keyakinan ini membuat mereka tidak memiliki motivasi untuk berbuat kebaikan atau meninggalkan keburukan.

  • Mendustakan Surga: Secara spesifik, al-husnā (yang terbaik) di sini ditafsirkan sebagai surga. Artinya, orang ini tidak percaya bahwa ada kehidupan setelah mati dan ada surga sebagai balasan bagi orang-orang beriman.

  • Mendustakan Ajaran Rasulullah: Mereka menolak kebenaran yang dibawa oleh para nabi, termasuk ajaran tentang hari kiamat dan balasan di akhirat.

Ayat 9 ini menunjukkan bahwa sifat kikir (ayat 8) dan perasaan merasa cukup (ayat 8) akan membawa seseorang pada sifat pendustaan terhadap kebenaran agama. Mereka tidak mau memberi karena tidak percaya akan adanya balasan, dan mereka merasa sombong karena merasa tidak butuh pertolongan dari Allah. Ini adalah tiga pilar yang akan membawa mereka pada "jalan yang sukar," yang akan dijelaskan pada ayat selanjutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fenomena Telur Berembrio: Eksotisme Kuliner atau Makanan Haram?

Antara Eksotisme Kuliner dan Syariat: Bagaimana Islam Memandang Telur Berembrio? Pernahkah Anda mendengar tentang Balut ? Di Filipina atau b...