Rabu, 29 Oktober 2025

Tafsir Surat Asy-Syams Ayat 15: Penegasan Kemahakuasaan Allah



Tafsir Surat Asy-Syams Ayat 15: Penegasan Kemahakuasaan Allah

Setelah menjelaskan secara rinci kebinasaan total (Damdama) yang menimpa Kaum Tsamud pada ayat sebelumnya, Allah Swt. menutup kisah tersebut dengan sebuah penegasan yang kuat dalam Surat Asy-Syams ayat 15:

وَلَا يَخَافُ عُقْبٰهَا

"Dan Dia tidak takut terhadap akibatnya." (QS. Asy-Syams: 15)

Menurut Imam Ibnu Katsir, ayat pendek ini memiliki makna yang sangat dalam mengenai sifat kemahakuasaan dan keadilan mutlak Allah Swt.

Siapakah "Dia" yang Tidak Takut?

Ibnu Katsir menegaskan bahwa kata ganti "Dia" dalam ayat ini merujuk kepada Allah Swt. Dialah yang telah membinasakan Kaum Tsamud, dan Dialah yang tidak takut atas segala perbuatan-Nya.

Makna "Tidak Takut Terhadap Akibatnya"

Inti dari tafsir ayat ini adalah untuk menunjukkan perbedaan fundamental antara Allah sebagai Penguasa Mutlak dengan para penguasa atau raja di dunia.

Seorang raja di dunia, ketika hendak menjatuhkan hukuman berat atau menghancurkan suatu kaum, pasti akan memiliki banyak pertimbangan dan kekhawatiran. Mereka mungkin takut akan "akibat" dari tindakan tersebut, seperti:

  1. Takut akan adanya pemberontakan sisa-sisa kaum tersebut.

  2. Takut akan adanya pembalasan dendam dari sekutu atau kerabat mereka.

  3. Takut tindakannya akan dikecam atau merusak reputasinya.

  4. Takut hukuman itu akan berbalik menimpa dirinya sendiri.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah Swt. sama sekali tidak memiliki kekhawatiran seperti itu. Ketika Allah Swt. membinasakan Kaum Tsamud, itu adalah tindakan yang didasari keadilan-Nya yang sempurna atas dosa dan kedurhakaan mereka.

Allah Maha Perkasa dan Maha Berdaulat. Tidak ada satu kekuatan pun di alam semesta yang dapat menuntut balas kepada-Nya, memintai-Nya pertanggungjawaban, atau menandingi kekuasaan-Nya. Dia melakukan apa yang Dia kehendaki, dan keputusan-Nya adalah mutlak.

Ayat ini menjadi penutup yang menegaskan bahwa azab yang menimpa Kaum Tsamud adalah murni ketetapan Allah yang Maha Kuasa, yang tidak memiliki rasa takut sedikit pun terhadap konsekuensi apa pun dari perbuatan-Nya yang adil tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fenomena Telur Berembrio: Eksotisme Kuliner atau Makanan Haram?

Antara Eksotisme Kuliner dan Syariat: Bagaimana Islam Memandang Telur Berembrio? Pernahkah Anda mendengar tentang Balut ? Di Filipina atau b...