Jumat, 31 Oktober 2025

The Holy Oath of the City of Mecca: Interpretation of Surah Al-Balad Verse 1


Sumpah Agung Allah: Tafsir Surat Al-Balad Ayat 1 (Aku Bersumpah dengan Kota Ini)

Surat Al-Balad (Negeri) dibuka dengan sebuah sumpah yang agung dan sarat makna. Ayat pertama surah ini berbunyi:

لَا أُقْسِمُ بِهَٰذَا الْبَلَدِ

"Lā uqsimu bihāżal-balad."

(Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini [Mekah],)

Imam Ibnu Katsir, dalam kitab tafsirnya, memberikan penekanan kuat pada makna sumpah ini, yang menjadi pembuka untuk pesan utama yang akan disampaikan Allah Swt. dalam surah tersebut.

1. Identitas "Kota Ini" (Al-Balad)

Ibnu Katsir dengan tegas menjelaskan bahwa frasa "kota ini" (هَٰذَا الْبَلَدِ - hāżal-balad) merujuk secara khusus kepada Makkah Al-Mukarramah.

Allah Swt. memilih untuk bersumpah dengan menyebut Mekah sebagai bentuk pengagungan terhadap kedudukan kota tersebut. Mekah adalah Ummul Qura (Induk Negeri-negeri), kota suci tempat Ka'bah berada, dan tempat kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Sumpah ini dimaksudkan untuk menarik perhatian serius dari para pendengar (terutama kaum Quraisy) terhadap pentingnya pesan yang akan disampaikan setelah sumpah.

2. Kontroversi Huruf (لاَ)

Salah satu titik fokus dalam penafsiran ayat ini adalah keberadaan huruf (لاَ) di awal kalimat (Lā uqsimu). Ibnu Katsir menyajikan pandangan-pandangan ulama mengenai fungsinya:

A. Pandangan Mayoritas: sebagai Penekanan (Zaidah Taukid)

Sebagian besar ulama tafsir, termasuk Mujahid, berpendapat bahwa huruf (لاَ) dalam konteks ini berfungsi sebagai tambahan (zaidah) yang tujuannya adalah penekanan (taukid).

Dengan demikian, arti ayat tersebut bukan "Aku tidak bersumpah...", melainkan "Sungguh, Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini." Pandangan ini lebih dominan karena ia selaras dengan penggunaan sumpah dalam Al-Qur'an yang berfungsi untuk menegaskan kebenaran atau pentingnya isu yang diangkat.

B. Pandangan Minoritas: sebagai Sanggahan (Nafi)

Pandangan minoritas menafsirkan (لاَ) sebagai nafi (peniadaan) yang berarti sanggahan terhadap perbuatan kaum Quraisy. Artinya: "Aku tidak bersumpah dengan kota ini," karena penduduknya pada saat itu (kaum Quraisy) melakukan perbuatan-perbuatan yang menodai kehormatan kota suci tersebut. Namun, setelah menyajikan dua pandangan ini, Ibnu Katsir cenderung mendukung makna penekanan.

3. Kaitan dengan Ayat-Ayat Berikutnya

Sumpah ini disajikan sebagai pembuka yang megah sebelum Allah Swt. menyampaikan inti pesan surah, yaitu:

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." (QS. Al-Balad: 4)

Dengan bersumpah atas nama negeri yang suci dan penuh berkah ini, Allah mempersiapkan pikiran pendengar untuk menerima kebenaran universal tentang kodrat penciptaan manusia yang penuh perjuangan (kabad). Allah menggunakan hal yang mereka agungkan (Mekah) sebagai dasar untuk menyampaikan kenyataan tentang kehidupan mereka sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fenomena Telur Berembrio: Eksotisme Kuliner atau Makanan Haram?

Antara Eksotisme Kuliner dan Syariat: Bagaimana Islam Memandang Telur Berembrio? Pernahkah Anda mendengar tentang Balut ? Di Filipina atau b...