🍞 Kedermawanan di Masa Krisis: Tafsir Al-Balad Ayat 14 tentang Memberi Makan Saat Kelaparan
Setelah menjelaskan tentang pembebasan budak (kemanusiaan), Al-Qur'an beralih ke rintangan kedua yang harus ditaklukkan manusia dalam perjalanannya menuju rida Allah: Kedermawanan di tengah kelangkaan.
Ayat 14 berbunyi:
أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ
(Aw it'āmun fī yawmin dhī masghabah)
"Atau memberi makan pada hari kelaparan,"
1. Makna Dzi Masghabah (Hari Kelaparan)
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kata Masghabah berasal dari As-Saghbu, yang berarti rasa lapar yang amat sangat. Namun, ayat ini tidak sekadar bicara tentang rasa lapar biasa.
Para ulama salaf yang dikutip oleh Ibnu Katsir, seperti Ibnu Abbas, Ikrimah, dan Qatadah, memberikan penekanan pada konteks waktunya:
Masa Paceklik: Yaitu hari-hari di mana makanan menjadi barang langka.
Harga Pangan Mahal: Kondisi di mana persediaan menipis dan harga-harga melonjak tinggi.
Krisis yang Merata: Masa di mana setiap orang merasa butuh dan khawatir akan kecukupan dirinya sendiri.
2. Mengapa Ini Disebut "Jalan yang Mendaki"?
Memberi makan saat kondisi ekonomi stabil adalah perbuatan mulia, namun mengapa Allah menyebutnya sebagai "jalan yang sukar" (Al-Aqabah) khusus pada masa kelaparan?
Melawan Insting Bertahan Hidup: Secara alami, saat terjadi krisis, manusia cenderung ingin menimbun (hoarding) untuk menyelamatkan diri sendiri dan keluarganya. Memberikan makanan kepada orang lain di saat kita sendiri merasa khawatir adalah puncak dari pengendalian diri.
Ujian Keikhlasan yang Ekstrem: Memberi di saat sulit membuktikan bahwa seseorang tidak lagi bergantung pada hartanya, melainkan percaya sepenuhnya pada jaminan rezeki dari Allah.
Pengorbanan Nilai Tinggi: Sesuap nasi di saat paceklik nilainya jauh lebih besar daripada satu nampan makanan di saat pesta. Itulah mengapa amal ini mampu menghapus dosa-dosa besar dan menjadi kunci keselamatan.
3. Relevansi di Era Modern: Menjawab Krisis Pangan
Pesan dari Surah Al-Balad ayat 14 sangat relevan dengan tantangan dunia hari ini. "Hari Kelaparan" bisa terwujud dalam berbagai bentuk:
Bencana Alam: Ketika akses terhadap logistik terputus dan masyarakat kesulitan mendapatkan bahan pokok.
Krisis Ekonomi: Saat inflasi membuat kelompok rentan tidak lagi mampu membeli kebutuhan dasar.
Konflik dan Perang: Di mana kelaparan dijadikan senjata atau menjadi dampak tak terelakkan.
Ayat ini memanggil setiap Muslim untuk tidak bersikap apatis. Menjadi orang yang menempuh "jalan mendaki" berarti menjadi garda terdepan dalam membantu ketahanan pangan bagi anak yatim dan orang miskin, terutama saat kondisi dunia sedang tidak baik-baik saja.
Kesimpulan
Surah Al-Balad ayat 14 mengajarkan bahwa kesalehan bukan hanya tentang seberapa banyak kita beribadah secara individu, tetapi seberapa besar keberanian kita untuk "berbagi nyawa" melalui makanan di saat krisis. Dengan memberi makan mereka yang lapar, kita sebenarnya sedang memberi makan jiwa kita sendiri agar kuat mendaki rintangan menuju pintu surga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar