🏠 Kebaikan yang Dimulai dari Rumah: Tafsir Al-Balad Ayat 15 tentang Yatim Berkerabat
Dalam perjalanan mendaki "Jalan yang Sukar" (Al-Aqabah) menuju rida Allah, Al-Qur'an tidak hanya memerintahkan kita untuk memberi, tetapi juga mengajarkan kepada siapa bantuan tersebut harus diutamakan. Surah Al-Balad ayat 15 memberikan petunjuk spesifik mengenai sasaran sedekah yang paling istimewa.
Ayat 15 berbunyi:
يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ
(Yatīman dhā maqrabah)
"(yaitu) anak yatim yang ada hubungan kerabat,"
1. Makna Dza Maqrabah (Memiliki Kedekatan)
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa istilah Dza Maqrabah merujuk pada anak yatim yang masih memiliki ikatan nasab, darah, atau kekeluargaan dengan orang yang memberikan bantuan. Ini bisa berarti keponakan, sepupu, atau anggota keluarga besar lainnya yang kehilangan sosok ayah.
Penyebutan "kerabat" secara khusus setelah "anak yatim" menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan tatanan sosial yang dimulai dari unit terkecil, yaitu keluarga.
2. Dua Pahala dalam Satu Genggaman
Mengapa menyantuni anak yatim dari kalangan kerabat menjadi bagian dari "Jalan Mendaki" yang sangat dihargai Allah? Ibnu Katsir mengutip sebuah hadits Rasulullah $SAW$ yang menjadi landasan utama:
"Sedekah kepada orang miskin adalah satu sedekah, sedangkan sedekah kepada kerabat adalah dua (pahala): pahala sedekah dan pahala menyambung tali silaturahmi." (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Nasai).
Dengan membantu yatim berkerabat, seorang Muslim melakukan dua ibadah besar sekaligus:
Ibadah Sosial: Menghilangkan kelaparan dan kesulitan orang lain.
Ibadah Keluarga: Memperkuat fondasi kekeluargaan dan menjaga kasih sayang antar kerabat agar tidak putus.
3. Mengapa Ini Disebut "Jalan yang Sukar"?
Secara psikologis, memberi kepada orang asing terkadang terasa lebih ringan karena sering kali mendatangkan pujian atau rasa puas secara instan. Namun, membantu kerabat sendiri sering kali menjadi tantangan karena:
Adanya Gengsi atau Ego: Terkadang ada konflik masa lalu antar keluarga yang membuat seseorang enggan membantu saudaranya sendiri.
Kurangnya Pengakuan: Membantu keluarga sering dianggap sebagai "kewajiban biasa" sehingga pelakunya merasa tidak mendapatkan apresiasi sebagaimana jika membantu orang jauh.
Menaklukkan rasa enggan ini demi ketaatan kepada Allah adalah bentuk nyata dari pendakian spiritual yang tinggi.
Kesimpulan
Surah Al-Balad ayat 15 mengajarkan kita untuk memiliki "pandangan yang tajam" terhadap orang-orang terdekat. Sebelum melangkah jauh menyantuni orang di luar sana, periksalah di dalam keluarga besar kita: adakah anak yatim yang terabaikan? Menolong mereka bukan hanya soal memberi makan, tapi soal menjaga martabat keluarga dan memenangkan rida Allah melalui jalur silaturahmi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar