Rabu, 14 Januari 2026

Tafsir Surat Al-Balad Ayat 16 : Keutamaan membantu fakir miskin




🌫️ Melampaui Batas Ketidakpedulian: Tafsir Al-Balad Ayat 16 tentang "Si Pemilik Debu"

Setelah Al-Qur'an memerintahkan kita untuk memperhatikan lingkaran keluarga (yatim berkerabat), pandangan kita kini diarahkan lebih jauh ke lapisan masyarakat yang paling bawah. Surah Al-Balad ayat 16 menggambarkan sebuah kondisi kemiskinan yang begitu ekstrem hingga Al-Qur'an menggunakan istilah yang sangat menyentuh nurani.

Ayat 16 berbunyi:

أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ

(Aw miskīnan dhā matrabah)

"Atau orang miskin yang sangat fakir."

1. Makna Tragis Dza Matrabah (Menempel pada Debu)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa secara etimologi, Dza Matrabah berasal dari kata Taraba yang berarti debu atau tanah. Istilah ini adalah kiasan (metafora) untuk menggambarkan kemiskinan yang sudah mencapai titik nadir.

Beliau merangkum beberapa penjelasan dari para sahabat:

  • Ibnu Abbas $radhiyallahu 'anhu$: Ia adalah orang yang tergeletak di jalanan, tidak memiliki rumah, sehingga tidak ada penghalang antara tubuhnya dengan tanah (debu).

  • Ikrimah: Ia adalah orang yang sangat sengsara hingga tidak memiliki alas tidur selain bumi yang ia pijak.

  • Qatadah: Seseorang yang memiliki tanggungan banyak namun hartanya benar-benar habis, sehingga ia seolah-olah "melekat" pada debu karena keputusasaan.

2. Mengapa Membantu Mereka Disebut "Jalan Mendaki"?

Dalam konsep Al-Aqabah (Jalan yang mendaki lagi sukar), membantu orang miskin yang melarat adalah salah satu ujian terberat bagi seorang hamba. Mengapa demikian?

  1. Melawan Keacuhan Sosial: Kaum marginal seringkali "tidak terlihat" oleh mata masyarakat. Mereka yang kotor karena debu sering dijauhi dan diabaikan. Memperhatikan dan menyentuh hidup mereka membutuhkan kerendahan hati yang luar biasa.

  2. Ketulusan Tanpa Balas: Memberi kepada orang yang sangat fakir berarti membantu seseorang yang secara logika duniawi tidak akan pernah bisa membalas kebaikan kita. Ini adalah murni transaksi iman antara seorang hamba dengan Tuhannya.

  3. Pengorbanan Martabat: Membantu mereka berarti kita harus bersedia "turun ke debu", merasakan kepedihan mereka, dan mengakui kesetaraan martabat di hadapan Allah.

3. Pesan Moral: Mengangkat dari Kehinaan

Ayat ini adalah panggilan bagi sistem sosial dan individu untuk tidak membiarkan satu pun manusia "menempel pada debu". Di era modern, Dza Matrabah bisa berarti:

  • Tunawisma yang tidur di kolong jembatan atau pinggir jalan.

  • Korban krisis ekonomi yang kehilangan segalanya dan tidak memiliki sandaran hidup.

  • Kelompok marginal yang terabaikan oleh akses kesehatan dan pendidikan.

Menolong mereka bukan hanya tentang memberi makan satu hari, tetapi tentang mengangkat mereka dari "debu" kehinaan menuju martabat hidup yang layak sebagai manusia.

Kesimpulan

Surah Al-Balad ayat 16 menegaskan bahwa kesalehan sejati tidak sempurna jika kita masih bisa tidur nyenyak di atas kasur yang empuk, sementara di luar sana ada hamba Allah yang "berkawan dengan debu". Menolong kaum fakir yang melarat adalah anak tangga terakhir dalam aksi sosial sebelum kita memasuki gerbang keimanan yang sempurna di ayat selanjutnya.

#TafsirAlBalad#FakirMiskin#DzaMatrabah#KeadilanSosial#TafsirIbnuKatsir#Kemanusiaan#Empati#TadabburQuran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fenomena Telur Berembrio: Eksotisme Kuliner atau Makanan Haram?

Antara Eksotisme Kuliner dan Syariat: Bagaimana Islam Memandang Telur Berembrio? Pernahkah Anda mendengar tentang Balut ? Di Filipina atau b...